Log in

I forgot my password

Who is online?
In total there are 2 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 2 Guests

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 33 on Fri Nov 01, 2013 6:20 pm
Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Absensi di sini
by Kurome Sun Nov 01, 2015 5:10 pm

» [Revive the Forum]
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:37 am

» Um.. hi, I guess?
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:35 am

» Do You Have Sixth Sense?
by Kurome Fri Jun 26, 2015 3:45 pm

» Website favorit kalian untuk baca komik online?
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:57 pm

» Biarkan Mata, Otak, Keyboard mengaum saat engkau mengetes mereka. xD~
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:56 pm

» Imaginary World
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:59 pm

» Komentar member di atas^
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:37 pm

» If you wish at fallen star, it will come true. Is that true?
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 3:56 pm

» Pengalaman Seram
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 12:48 pm

Fanlisting

[omake]Pure Heart Of Roses

View previous topic View next topic Go down

[omake]Pure Heart Of Roses

Post by Alfonze Alger on Fri Jul 17, 2009 6:53 am

yaay, omake lagi...

sekedar selingan saja, berhubung kemaren gak sengaja kepikiran ini..

intinya, ISENG.

============================================================


Shein kecil terbangun dari mimpi buruknya. Demamnya sudah turun, hanya ada keringat dingin di wajahnya. Nafasnya tak beraturan, Shein jelas sulit bernafas. Dan lagi-lagi Shein yang pada saat itu berumur 7 tahun menangis. Ya, Shein memang cengeng. Dia selalu menangis ketika mendapat semua mimpi buruk itu.

“Shein-sama, bermimpi buruk lagi kah?” seorang maid masuk ke kamar Shein. Kali ini maid itu yang membawakan sarapan untuk Shein, biasanya Shien, tetapi Shien sedang sekolah saat ini.

Shein menghapus air matanya. Dia tidak ingin menangis lagi, tetapi hantinya benar-benar sakit dan kesendirian itu yang membuatnya menangis terus. Dia melihat sarapannya, lagi-lagi bubur. Shein benci sekali pada bubur yang sudah di taburi oleh obat itu.

“Ngg… Claudia-chan, apa aku sudah boleh bermain ke taman?” Shein kecil bertanya dengan lugunya pada maid yang biasa di panggilnya -chan. Shein sudah menganggap mereka semua seperti keluarganya.

Claudia menggeleng, Shein langsung terlihat lesu setelah melihat reaksi dari maid berambut kecoklatan panjang tersebut.

“Maafkan saya, Shein-sama… tapi masih belum boleh. Shein-sama ingin di ambilkan bunga ya? Biar saya yang ambilkan.”

Shein diam saja. Dia mulai mengambil mangkuk di depannya, mengaduk-aduknya tak berselera untuk memakannya. Shein tidak ingin orang lain yang mengambilkannya. Lagi pula Shein sudah merasa sehat, apalagi hanya untuk bermain di taman. Bukankah Shein tidak akan sampai mati jika bermain di sana?

Shein menunggu Claudia untuk keluar dari ruangannya. Shein pura-pura mengunyah bubur itu padahal dia ingin sekali segera memuntahkannya lewat jendela.

“Claudia -chan pergi saja dulu. Tak usah mengawasiku, aku berjanji aku tidak akan kabur.”

Shein meyakinan Claudia, dia tersenyum lugu, dan kembali memakan bubur yang rasanya tak enak itu. Claudia mengangguk, dan keluar dari kamar Shein.

Sebelum memastikan rencana-nya, Shein memastikan Claudia sudah benar-benar jauh dari tempatnya. Shein kemudian menuju ke jendela kamarnya, dan buru-buru keluar dari sana.

“Aku tidak akan kabur, hanya pergi lewat jendela saja kok, Claudia-chan,” Shein tersenyum, tepatnya dia memang tidak berbohong. Claudia berkali-kali menasehatinya agar tidak berbohong. Tapi Shein mengartikan ‘pergi lewat jendela’ itu bukan termasuk ke kategori ‘kabur’, dia tetap saja melakukan itu semua walau sudah berjanji pada Claudia.

Shein agak kesusahan keluar dari jendela. Karena itu pertama kalinya dia melakukannya. Shein buru-buru menuju taman. Taman bunga tepatnya. Shein memang menyukai bunga. Itu berawal karena Shein yang hanya bisa memandangi bunga mawar Rosa Alba yang tumbuh di dekat jendela kamar Shein. Bagi Shein bunga Rosa Alba itu sedang menyendiri dari bunga-bunga lainnya, kesepian. Mirip dengan keseharian Shein yang selalu kesepian.

“Nee, Rosa Alba-chan… aku akan membawamu ke taman, agar kalian tak kesepian lagi,” Shein menunduk, dan mulai berbicara pada bunga Rosa Alba itu. Dia berlari senang ke arah taman, tak sabar ingin menyatukan semua bunga-bunga itu.

Anak kecil itu sangat senang ketika dia sudah mencapai tujuannya, menuju ke taman bunga. Shein terlihat sangat senang, walau yang ada di sekelilingnya sekarang hanyalah bunga-bunga, entah mengapa Shein terlihat bahagia sekali ada di tengah-tengah kumpulan bunga itu. Shein hampir saja kelupaan untuk menanamkan bunga Rosa Aba-nya di sana.

“Ah, aku jadi lupa padamu yah, Rosa Alba-chan…,” Shein mulai menggali tanah di sana, dengan tangannya sendiri dan menanamkan bunga Rosa Alba itu beserta dengan akar-akarnya, agar benar-benar tumbuh.”Lihat? Sekarang kau tidak sendiri lagi… jadi… jangan menatapku dengan pandangan ‘itu’ lagi… kalian membuatku semakin kesepian… ukh…”

Entah autis entah apa. Tapi Shein memang seperti itu. Dan sekarang dia sudah mulai menangis lagi. Ada yang selalu menusuk harinya jika dia teringat kesendiriannya itu. Tangisannya tak dapat tertahankan lagi, air matanya mulai membasahi bunga-bunga Rosa Alba yang Shein tanam tadi. Walau hanya satu, tetapi bunga itu merupakan bunga yang paling indah di antara bunga-bunga lainnya.



Raven Novadion, anak berumur 7 tahun, lagi-lagi nekat untuk memberanikan diri memanjat pagar kediaman EINVERD yang sangat tinggi. Itu peratama kalinya Raven memanjat pagar kediaman Einverd. Raven yang baru saja di ceramahi kakaknya, Stein soal keluarga Einverd adalah musuh Novadion, mencoba untuk membuktikan semua perkataan kakaknya itu.

“Satu… ngg… dua, tiga…,” Raven kecil menaiki pagar itu, sambil menghitung agar konsentrasinya tidak buyar kemana-mana.

Raven terus menaiki pagar itu. Baginya merupakan sebuah tantangan memanja pagar yang cukup tinggi itu. Dan jerih payahnya tak sia-sia. Raven behasil mencapai puncak pagar tersebut untuk pertama kalinya.

“Hebat! Dari sini pemandangannya bagus sekali!” Raven melihat kesekelilingnya, ad ataman yang sangat besar.”Eh? Kenapa anak itu menangis?”

Raven mulai memperhatikan Shein yang sedan menangis di bawahnya. Shein tentu tidak menyadari kedatangan bocah bermata emerald green itu. Raven mencoba untuk melihat anak yang menangis itu jauh lebih dekat. Raven terus maju, sehingga dia kehilangan keseimbangan. Raven lupa dia sedang ada di puncak pagar itu. Dan…

“WAAAAAII, AWAS YANG DI BAWAH!”

Raven berteriak pada Shein, mengingatkannya untuk menghindar. Raven tergelincir, dan jelas dia jatuh menuju ke arah Shein.

BRUK!

Raven terjatuh, tepat di atas Shein, menduduki anak yang sedang menangis itu. Jelas Shein benar-benar syok, ada orang yang tiba-tiba menindihnya dari atas. Itu membuatnya semakin kesakitan saja dan melanjutkan tangisannya.

“Hiks….”

Raven panik melihat anak itu menangis, apalagi gara-gara terkena olehnya tadi.”Ano… maafkan aku… aku tak sengaja… hehe,” Raven nyengir, dan membantu Shein untuk berdiri, dengan mengulurkan tangannya.

Shein buru-buru menghapus air matanya lagi. Benar-benar memalukan sebagai member dari keluarga Einverd selalu menangis sepertinya.

“Aku baik-baik saja, terima kasih. Anda siapa?”

Raven nyengir lagi, dia benar-benar bahagia hari itu.”Raven. Raven Novadion, salam kenal…”

Shein merasa pernah mendengar nama Novadion, tetapi dia benar-benar tidak ingat. Shein merasa obrolannya nyambung dengan Raven.

“Aku… Shein. Shein Einverd,” Shein membalas cengiran Raven dengan senyuman lugunya. Di lihatnya, ada bunganya yang diinjak oleh Raven.”Raven-san, coba lihat di bawah kakimu.”

Raven menurut, dan ketika dia mengangkat kakinya, benar saja, ternyata ada bunga yang terinjak olehnya. Bunga lily putih.

“EEH! KOK BISA TERINJAK?” Raven mulai salting, dan segera menunduk-nunduk pada Shein untuk meminta maaf.”Aku… tidak bermaksud menginjaknya,” Raven bingung mau minta maaf apa lagi. Sepertinya dia dari tadi sudah membuat masalah terus di sana.

Shein ahirnya tertawa, melihat tingkah Raven yang salting itu membuatnya benar-benar melupakan semua kesedihannya, walaupun hanya untuk beberapa detik.

“AHAHAHA, tidak apa-apa. Lagi pula salahku juga tak mengingatkan Raven-san ya…”

Raven malah ikut-ikutan tertawa juga. Dia maah mentertawakan kesalingannya juga, tertawa memang menyenangkan, itulah yan ada di pikiran Raven pada saat berumur 7 tahun.

“RAVEN!”

Itu suara Stein, kakak dari Raven yang menjemput Raven karena tiba-tiba saja di sekolah, Raven langsung kabur ke kediaman Einverd ini. Bolos pelajaran tepatnya gara-gara untuk membuktikan kebenaran dari perkataan Stein saja.

“Tunggu sebentar, Onii-sama!” Raven kembai memanjat pagar itu, buru-buru keluar dari kediaman Einverd.”Sampai jumpa lagi, Shein! Aku akan sering-sering main ke sini, sepulang sekolah.”

Shein hanya melongo melihat Raven yang begitu mudahnya turun-naik pagar tersebut. Padahal tinggi sekali pagarnya, Shein saja melihatnya tak berani. Lamunan Shein di pecahkan oleh sang maid, Claudia yang memergoki Shein bermain di taman lagi.

“Shein-sama! Harusnya Shein-sama tetap di kamar. Bukankah Shein-sama sudah berjanji untuk tidak kabur lagi?” Claudia benar-benar bertindak seperti ibu bagi Shein, Shein juga langsung memeluk Claudia, seperti ibu dan anak.

“Claudia-chan, aku kan tidak kabur, aku hanya pergi sebentar ke taman. OH IYA! Tadi… aku bertemu teman baru,” Shein benar-benar bersemangat bercerita pada Claudia.”Aku senang sekali, Claudia-chan…”

Claudia hanya tersenyum, melihat Shein yang paling tidak sudah kembali ceria lagi. Akhir-akhir ini dia lebih sering murung dan terlihat bermain sendiri. Itu semua membuatnya khawatir.

“Lalu… lalu, Claudia-chan! Lihatlah, Rosa Alba itu! Bukankah lebih baik bersama dengan yang lainnya dari pada sendiri saja? Iya kan?” Shein bercerita dengan sangat semangat, menunjuk-nunjuk ke arah Rosa Alba yang tadi di tanamnya.

“Ahahaha, tentu saja Shein-sama. Sekarang ayo kita lanjutkan pembicaraan tentang bunga-bunga di dalam, ok? Di sini mulai dingin.”

Shein mengangguk bersemangat, dia di tuntun oleh Claudia. Claudia memegang tangannya, Shein merasa hangat sekali saat itu. Kesendirian itu, Shein beraharap dia tak pernah mengingatnya lagi.

Seperti bunga Rosa Alba itu. Tahun demi tahun terus bejalan. Dan kalian tau apa yang terjadi pada bunga itu? Bunga itu berkembang, tumbuh dan beradaptasi. Sekarang bunga itu menjadi sangat banyak, yang tadinya hanya satu Rosa Alba, sekarang menjadi berpuluh-puluh Rosa Alba. Shein dapat mengetahui mereka semua, Rosa Alba itu. Mereka tersenyum. Kesendirian itu hilang, di gantikan dengan kebersamaan dari setiap bunga Rosa Alba tersebut.

Lalu… apakah aku bisa seperti Rosa Alba itu suatu saat nanti?

Shein selalu bertanya. Bertanya pada dirinya sendiri. Berharap kesendirian yang di rasakannya benar-benar menghilang, seperti bunga-bunga itu. Semuanya.


=============================================================


Shein meneguk tehnya lagi pagi itu. Dia masih tetap memperhatikan tamannya, yang di design benar-benar sama dengan rumahnya yang dulu sempat hancur akibat peperangan 100 tahun yang lalu. Shein sedang menunggu butler-nya, dia ingin menambahkan sesuatu di tamannya itu.

“Ada yang perlu saya lakukan dengan taman ini, Shein-sama?”

“Ya, tambahkan saja semak-semak di sekitar sana,” Shein menunjuk kearah gerbang kediaman Einverd.

“Semak-semak? Maksud anda bunga Rosa Alba atau semak-semak biasa?”

“Semak-semak biasa saja. Kau hanya perlu menanamkannya di sana, laksanakanlah perintahku, sekarang.”

Butler itu mengangguk mengerti, dan segera menyuruh tukang kebun untuk menambahkan semak-semak di sana. Butler itu penasaran, dan kembali menanyakan pada Shein untuk apa sebenarnya semak-semak itu di tanam di sekitar gerbang masuk ke kediaman Einverd.

“Maaf saya lancang, Shein-sama. Tapi jika saya boleh tahu, untuk apa di tanamkan di sana?”

Shein tersenyum simple,”Itu untuk tempat jatuhnya Raven. Paling tidak dia tidak akan jatuh menindihku lagi.”

“Menindih Shein-sama? Ada yang perlu saya tambahkan lagi?” Butler itu semakin tidak mengerti apa yang di katakan oleh Shein.

“Ya. Sudahlah, pergilah kau, dan bilang pada para maid untuk menyiapkan makan siang untukku. Oh, ya! Pasangkan juga papan di dekat semak-semak itu, ‘AWAS JIKA MENGINJAK BUNGA-BUNGA LILY ATAUPUN ROSA ALBA DI SINI, KAU AKAN BERURUSAN DENGAN SHEIN EINVERD’, tulis saja itu di papannya, ok? ” Shein tersenyum iblis.

Butler itu lagi-lagi menangguk, dan tidak berani lagi untuk bertanya pada Shein. Tepatnya dia merinding ketika Shein mengatakan semua itu, dan Butler itu buru-buru menuju dapur untuk menyiapkan makan siang, menjauhi si iblis Shein.

_________________


siggy (c) me

"The one reflecting in the water surface is
the face of persona(me) who had eyes with a blue glass gem."
- Alfonze Alger -

Alfonze Alger
Admin
Admin

Posts : 10769
Points : 11096
Join date : 2009-06-18
Age : 24
Location : Bandung

Character Bio
Character Name: Alfonze Alger
Status: Gavium Family
Job: Knight, pandora elite officer, contractor,

View user profile http://pandora-hearts.forumotion.net

Back to top Go down

Re: [omake]Pure Heart Of Roses

Post by Alfonze Alger on Sun Jul 26, 2009 8:35 am

CHAPTER 2


Sinar matahari pagi yang hangat menerangi koridor kediaman Einverd saat itu. Seorang bocah laki-laki yang membawa pedang perak, berambut silver keabu-abuan, menelusuri koridor. Dia kemudian berhenti. Memperhatikan taman itu, matanya yang berwarna ungu mengelilingi taman tersebut, mencari-cari seseorang.

Lalu dia mendesah. Orang yang dicarinya tak ada, dan melanjutkan jalannya di koridor panjang menuju sebuah ruangan dengan terburu-buru.

===========================================================

Shein berlari-lari menuju ruang makan. Dia tidak mempedulikan suara-suara para maid yang menyuruhnya untuk tidak berlari. Tentu saja Shein senang hari itu, dia dapat berlari-lari lagi tanpa adanya pusing ataupun demam yang menghantuinya.

Shein yang sudah sampai di ruang makan kediaman Einverd itu langsung memeluk Claudia yang sedang mempersiapkan makanan di sana. Di antara semua maid dan pelayan di rumah Einverd itu, Shein memang paling akrab dengan Claudia yang sudah dianggapnya sebagai ‘Ibu’ kedua.

“Claudia-chan! Sudah liat ke taman? Rosa alba-chan jadi ada dua! Bukankah Rosa Alba-chan hanya bisa tumbuh setahun sekali? Ini hebat kan, Claudia-chan?”

Lagi-lagi Shein kecil itu bercerita soal Rosa Alba yang di tanamnya kemarin. Shein selalu mengunjungi Rosa Alba itu, mengajaknya bicara, menyiraminya, dan merawatnya setiap hari. Jelas Shein sangat senang ketika mengetahui bahwa Rosa Alba-nya semakin banyak sekarang.

Para pelayan di sana tertawa melihat Shein yang begitu semangat sekali membicarakan bunga mawar berwarna putih itu. Semua pelayan di sana menganggap Shein sebagai master mereka yang paling berharga, sifat Shein kecil itu selalu membuat para pelayan di kediaman Einverd bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka.

“Aku sudah lihat, Shein-sama. Ini semua karena Shein-sama yang merawatnya dengan baik,” jawab Claudia sambil tersenyum menanggapinya, dia masih tetap menata meja makan itu.”Nah, sekarang duduklah di sana, sebentar lagi makanan akan siap.”

Shein kemudian duduk manis di kursi yang telah di sediakan Claudia. Terkadang dia menggoyang-goyangkan kakinya sambil menunggu persiapan sarapannya selesai.

Shein tetap menunggu kedatangan kakak kembarnya, Shien, untuk sarapan di ruang makan bersama-sama. Shien pasti baru saja selesai berlatih pedang pada saat seperti ini.

Lalu datanglah seorang anak laki-laki yang benar-benar mirip, bahkan sama rupanya dengan Shein. Dia berjalan dengan tegap menuju meja makan. Tatapannya selalu saja dingin melihat para pelayan di sana. Anak laki-laki itu bernama Shien. Dia duduk bersebelahan dengan Shein, menunggu sarapan juga.

“Nee, nee, onii-sama. Sudah lihat rosa alba-chan di taman?” Shein bertanya sambil menarik baju kakaknya itu dengan lugunya, sama sekali tidak mempedulikan tatapan Shien yang dingin itu.

Shien tersenyum dan mengacak-acak rambut adik kembarnya itu,"Ya, aku sudah melihatnya. Kau pasti merawatnya dengan baik ya, Shein.”

Shein hanya tertawa-tawa saja melihat kakaknya yang mengacak-acak rambutnya terus itu. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihat Shien. Shien sibuk sekali dengan sekolahnya dan pelatihan khusus keluarga Einverd itu.

Kelihatannya sarapan yang Shein dan Shien tunggu-tunggu akhirnya siap juga. Para Maid itu menjejerkan satu persatu piring yang berisi makanan di meja yang panjang itu. Di sana ada berbagai macam jenis Roti Prancis, roti kesukaan Shein.

BRUK!

Shien yang selalu siap siaga mendengar suara dari sekitar taman. Sementara itu Shein masih asyik memakan Roti Prancis kesukaannya.

“Shein, aku keluar dulu sebentar. Kau makan saja dulu, tidak usah menungguku,” Shien tanpa ragu-ragu berlari menuju taman.

Shien benar-benar terkejut dengan apa yang di lihatnya di taman. Seorang anak bodoh berambut kuning keemasan terjatuh dari atas pagar kediaman keluarga Einverd, dan yang lebih ajaibnya lagi, anak itu masih hidup setelah jatuh dari atas pagar itu. Shien buru-buru mengeluarkan pedang peraknya, dan menodongkan pedang tersebut ke anak bodoh itu.

“Kau,” Shien memukul pelan kepala anak itu.”Siapa kau?”

Anak itu berdiri sambil memegangi kepalanya yang sakit sekali gara-gara terjatuh dari atas pagar. Kemudian dia berdiri lagi dengan tegak, masih melihat Shien dengan pandangannya yang belum sepenuhnya kembali.

“EH! Kau lupa padaku ya? Aku Raven, yang kemarin tidak sengaja menindihmu. Kau ingat?” Raven mengira Shien adalah Shein.

Sejenak Shien terdiam, memikirkan siapa anak yang ada di depannya sekarang. Rambut kuning keemasan dan mata emerald green. Shien belum pernah bertemu dengannya, ingatannya tak bisa di ragukan, Shien benar-benar tidak mengingat Raven.

“Aku tidak mengenal anak bodoh dan ingusan sepertimu,” jawab Shien dingin.”Sekarang apa maumu?” Shien mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, kemudian menodongkannya lagi kearah Raven.

Raven benar-benar bingung. Perubahan sifat Shein. Padahal kemarin Shein benar-benar cengeng dan lemah. Tetapi Shein yang dilihatnya sekarang benar-benar gagah dan dingin. Dua kepribadian kah?

Raven merinding melihat pedang tajam itu benar-benar dekat dengannya kali ini.

“Eehh… tenang dulu… aku hanya … ngg… melaksanakan janjiku untuk ke sini lagi. Janjiku kemarin. Kau benar-benar lupa ya?” Raven berusaha menghindari pedang perak itu jauh-jauh.

Shien menatap Raven dengan tajam. Dia tentu tidak ingat dengan semua yang Raven katakan, karena yang di maksud Raven adalah adiknya, Shein.

“Sudah kubilang aku tidak mengenalmu,” Shien mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mulai mengarahannya ke Raven.”JANGAN SOK KENAL! PASTI KAU PENYUSUP!”

Raven secara reflex langsung menghindari serangan Shien, dan langsung bersembunyi di balik semak-semak.

“Hiks… okaa-sama, otoo-sama, Stein nii-sama, aku takut…,” badan Raven gemetaran, dia masih bersembunyi di semak-semak, sangat ketakutan karena Shien.

Shien masih mencari Raven di antara semak-semak di taman itu. Sementara itu Shein yang sudah selesai makan segera berlari lagi menuju taman sebelum Claudia atau maid lainnya melarangnya.

Dan kebetulan Shein menemukan Raven yang sedang gemetaran di balik semak-semak. Shein tidak tau yang sebenarnya terjadi, dan tiba-tiba mengagetkan Raven dari belakang.

“RAVEN-CHAN! Sedang main petak umpet dengan onii-sama ya?” Shein lagi-lagi salah mengartikan kejadian saat itu.”Aku… boleh ikutan kan, Raven-chan?” Shein tersenyum lugu, dan malah ikut bersembunyi dengan Raven di semak-semak itu.

Raven malah bengong melihat tingkah laku Shein yang berubah drastis dari yang tadi. Raven mengintip dari semak-semak, dan ternyata Shien masih mencarinya. Raven mulai pusing karena melihat dua Shein di tempat yang berbeda.

“Kenapa Raven-chan? Main petak umpet itu menyenangkan yaa,” Shein malah senyum-senyum sendiri, masih salah mengartikan situasi.

“T-tunggu sebentar. Kau Shein kan? Lalu anak yang membawa pedang perak itu siapa?” Tanya Raven, badannya masih gemetaran.

Shein kemudian mengintip dari semak-semak juga, memperhatikan orang yang di bicarakan oleh Raven.

“Itu Shien nii-sama. Dia kembaranku. Raven-chan juga sebaiknya berkenalan dengannya, ya?” Shein sudah mulai ingin keluar dari semak-semak itu, tetapi di tarik kembali oleh Raven.

“Ssst… sebaiknya diam dulu di sini. Kenapa kau bisa mempunyai kakak kembar yang seram seperti dia? Menyeramkan sekali…,” Raven mulai membayangkan kalau Stein menjadi seperti Shien.

Shein hanya mengangguk, menuruti semua kata Raven. Shein mengira itu hanyalah bagian dari permainan petak umpet. Sementara itu Shien masih sibuk menghancurkan satu persatu semak-semak untuk mencari Raven.

Shien tersenyum licik, hanya tinggal sisa satu semak-semak saja. Yang lainnya sudah di hancurkannya. Semak-semak itu adalah tempat persembunyian Shein dan Raven.

“KUTEMUKAN KAU, PENYUSUP!” Shien menebaskan pedangnya kearah semak-semak, kini dia melihat ada Raven dan Shein di balik semak-semak itu.

“HUWAA,” Raven langsung mundur beberapa langkah dari Shien. Dia benar-benar kaget Shien tiba-tiba saja sudah menghancurkan semak-semak dan kemudian kepala Raven terkena pot yang ada di belakangnya.

Lalu Shein masih saja salah mengartikan situasi itu, dia mengira itu masih bagian dari permainan,”Onii-sama hebat! Sekarang Raven-chan yang jaga!”

Shien sendiri bingung. Mengapa Shein bisa ada di sana, dan apa yang di maksud dengan permainan yang Shein katakana tadi.

“Apa maksudmu, Shein? Siapa dia? Temanmu?” Shien menunjuk kearah Raven yang sedang kesakitan karena kepalanya terbentur pot besar.

“Iya... Dia teman baruku, Raven Novadion,” jawab Shein bersemangat.

“He? Apa benar Novadion? Memangnya ada member Novadion seperti dia?” Shien masih memperhatikan Raven. Tindakan Raven selalu saja bodoh dan ceroboh.

Shein tidak mengerti apa itu Novadion dan hal-hal lainnya, jadi dia hanya diam saja menanggapi ocehan kakaknya.

“Baiklah. Kalau dia memang temanmu, berarti dia juga temanku,” Shien mendekati Raven, dan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.”Aku Shien Einverd. Tak kusangka kau masih bisa hidup setelah terjatuh dari ketinggian itu.”

Raven tidak terlalu mengerti dengan apa yang di katakah Shien. Tapi Raven menyambut pertolongan Shien, dan dengan sopan memperkenalkan dirinya juga.

“Aku Raven Novadion. Tak kusangka Shein mempunyai kakak yang benar-benar menyeramkan,” Raven mengikuti perkataan Shien kemudian tertawa, itu juga membuat Shien tertawa. Dan Shein yang lugu itu kebingungan sendiri, hanya ikut-ikutan tertawa saja.

“Bagaimana kalau kita bermain petak umpet sungguhan kali ini! Tapi, err… jangan ada kekerasan,” usul Raven sambil melirik pedang milik Shien.

“Eh? Oh, tentu saja,” Shien melemparkan pedangnya, dan mulai mendengarkan usul Raven itu.”Jadi… permainan apa itu? Apa semacam permainan taktik berperang?” di dalam otak Shien kecil hanya ada berperang, karena dia yang sudah di didik sebagai penerus keluarga Einverd.

“Bukan!” Raven buru-buru menggeleng, dia benci berperang.”Itu permainan… bersembunyi dan mencari. Ok, Shien duluan yang jaga!” Raven mengenai tangannya ke pundak Shien, maksudnya Shien yang harus mencari mereka, dan Raven mulai berlari.

Sementara itu Shien kebingungan dengan inti dari permainan ini. Dia melihat Raven sudah tidak ada lagi di sekitarnya, sudah bersembunyi. Sementara itu Shein juga baru menyadari dan ingin ikutan bersembunyi.

“Tunggu aku, Raven-chan,” dan Shein tidak melihat ada batu taman di depannya, dan akhirnya dia terjatuh.”WAAAII!”

Dan Shein pun terjatuh, matanya mulai berkaca-kaca, ingin menangis. Seperti biasa, sedikit-sedikit dia menangis jika ada masalah.

“AH!” Shien langsung menghampiri adiknya yang terjatuh itu.”MAID! BAWAKAN KOTAK P3K SEKARANG JUGA!” Shien panik, dan membantu Shein untuk berdiri, kemudian melihat luka di kakinya.”Eh, lecet. Sepertinya harus di beginikan, lalu…,” Shien berusaha untuk mengobati Shein sendiri, tetapi yang ada malah darah semakin keluar dari kaki Shein.

“D-DARAAAAH!” Raven yang baru keluar dari tempat persembunyiannya, histeris melihat darah, dan Shien pun jadi panik gara-gara teriakan histeris Raven.

“B-bodoh! JANGAN BUAT AKU PANIK! MAID, BANTU AKU!” ]Shien benteriak-teriak, sementara Shein sudah pasrah dengan malpraktek yang di lakukan kakaknya itu.

Dan para maid itu pun segera melaksanakan perintah Shien, membaluti kaki Shein, dan akhirnya selesai. Kaki Shein terbalut rapih, dan darahnya juga sepertinya sudah berhenti. Shein pun di ceramahi oleh para maid, agar tidak kabur lagi, dan mereka menyuruh tuannya itu untuk beristirahat di kamar, Shien mengikuti Shein, sementara itu Raven di tinggal sendiri di taman.

“Hee… main petak umpetnya gak jadi ya, ya sudah deh, sepertinya aku harus pulang,” Raven menaiki pagar, kemudian seperti biasa keluar dari kediaman Einverd dengan cara yang tak normal.




==============================================================

Sampai di sini dulu, sumpah, STUCK… Di chapter berikutnya ada bunuh-bunuhannya, mungkin saya jadi semangat ngetiknya.==;..

_________________


siggy (c) me

"The one reflecting in the water surface is
the face of persona(me) who had eyes with a blue glass gem."
- Alfonze Alger -

Alfonze Alger
Admin
Admin

Posts : 10769
Points : 11096
Join date : 2009-06-18
Age : 24
Location : Bandung

Character Bio
Character Name: Alfonze Alger
Status: Gavium Family
Job: Knight, pandora elite officer, contractor,

View user profile http://pandora-hearts.forumotion.net

Back to top Go down

Re: [omake]Pure Heart Of Roses

Post by Alfonze Alger on Sun Aug 02, 2009 8:38 am

CHAPTER 3, PART 1


Pagi itu hari yang cukup cerah. Dan seperti biasa, para maid itu membawakan sarapan ke masing-masing kamar tuannya. Luka di kaki Shein kecil, sudah sembuh sepenuhnya. Dan para maid itu mulai cerewet membawakan sarapan, dan obat yang bermacam-macam jenisnya.

“Hhh… aku kan cuman luka di kaki saja, kenapa harus minum obat?” Tanya Shein pada salah satu maid yang baru datang.

“Tentu harus minum obat. Kalau demam lagi bagaimana?” maid itu mulai menaruh roti Perancis, sarapan Shein, di meja di dekat sana.

“Hhh….”

Shein hanya bisa mengeluh ini-itu setiap harinya. Dan menunggu para maid itu untuk segera keluar dari kamarnya. Dia hanya menunggu seorang maid saja, yang paling dekat dengannya.

“Claudia-chan belum datang ke kamarku,” kata Shein lagi, polos. Kemudian Shein menarik-narik rok maid yang ada di dekatnya, ingin bertanya,”Selly-chan, Claudia-chan ke mana?”

Lalu maid bernama Selly itu menjawabnya dengan tenang,”Oh, Claudia-san sedang ada keperluan. Jadi seluruh tugasnya dikerjakan olehku sekarang. Memangnya ada apa, Shein-sama?”

Shein menggeleng, tidak mau memberitahukannya pada Selly. Dia ingin sendiri dulu.

“Tidak, tidak ada apa-apa. Selly-chan, bisa ajak yang lainnya keluar juga? Aku ingin istirahat.”

Selly segera mematuhi perintah masternya itu, dan mengajak seluruh maid untuk keluar juga. Jika sekarang Claudia yang di suruh seperti itu oleh Shein, pasti wanita itu tidak akan menerima perintahnya dengan begitu mudahnya. Claudia tau akal-akalan Shein yang bertujuan untuk kabur, dll.

Kemudian semuanya menjadi sunyi dan sepi. Shein memakan Roti Perancisnya pelan-pelan.

DUK..DUK..

Shein melihat kearah jendela, yang berbunyi itu. Jendelanya sekarang dikunci, dan diberikan kaca, sehingga Shein sama sekali tidak bisa keluar lewat jendela tersebut. Dan… sekarang ada kakak kembarnya yang sedang memukul-mukul kaca dari luar, memanggil-manggil Shein.

Shein langsung ceria, dan menuju kearah jendela.

“Shien nii-sama! Sedang apa di sini?” Tanya Shein girang.

“Ssstt… jangan keras-keras. Aku mau mengajakmu untuk melihat latihan berpedangku, mau ikut?”

Senyuman mengembang di wajah Shein, dia senang kakaknya mengajaknya untuk melihat latihan yang menurutnya hebat itu.

“Ahh, aku mau sekali! Tapi bagaimana cara keluar dari sini?” Shein mengetuk-ngetuk kaca di depannya.

Shien mengeluarkan pedangnya, dia berniat untuk menghancurkan jendela tersebut.

“Minggir, Shein,” Shien kemudian mengayunkan pedangnya, kearah jendela tersebut.

PRANG

Dan dengan laknatnya Shein menghancurkan jendela tersebut. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, dan membantu adik kembarnya itu untuk keluar dari kamar. Shein seperti biasa, agak kesulitan untuk menaiki jendela tersebut.

Kemudian sepasang anak kembar itu mengendap-ngendap, menuju ke ruang latihan berpedang. Sangat sulit, karena maid-maid itu berkeliaran di mana-mana. Dan ruang latihan berpedang itu cukup jauh dari kamar Shein. Harus berjalan melewati banyak kamar.

Dan sampailah mereka di ruangan itu. Ruangan yang berlantaikan kayu, tetapi di buat dengan benar-benar rapih, sehingga tidak ada satupun yang menyangka lantai tersebut di buat dari kayu. Di sudut-sudut ruangan tersebut terdapat banyak pedang, yang di jejerkan, dan di gantungkan di sana. Berbagai macam jenis pedang. Dari pedang kayu, sampai pedang yang paling berbahaya sekalipun. Kilauan-kilauan pedang itu membuat Shein terkagum-kagum sendiri. Dia baru pertama kali ke ruangan ini. Sejak dulu dia sudah dilarang masuk ke sini.

“KEREN!”

Shien hanya tertawa melihat adiknya yang terkagum-kagum sendiri itu. Tujuannya mengajaknya ke sini juga untuk membuatnya senang juga, dan pasti Shein bosan di kamar terus-terusan. Kemudian Shien mengayunkan pedangnya, dengan terampilnya, dan membelah salah satu jerami yang diikat di siapkan untuk berlatih di sana.

“WAII, ONII-SAMA KEREN!” Shein tak henti-hentinya memuji kakaknya itu. Senang melihat gerakan yang di buat oleh Shien, benar-benar indah baginya.

“Ahahaha, coba lihat yang ini,” Shien memutar-mutarkan pedangnya, tanpa mengenai tangannya, kemudian melemparkan pedang tersebut, tepat mengenai sebuah sasaran yang sudah di sediakan juga di sana.

“Hebat sekali…,” Shein sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kagumnya itu. Dia mulai berkhayal untuk dapat menggunakan pedang seperti kakaknya juga.

Belum lama setelah itu, ada yang memasuki ruang latihan tersebut. Seorang pria, berambut silver keabu-abuan juga, dan memakai baju layaknya bangsawan dengan lambang Einverd di jubahnya. Duke Einverd, yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari kedua anak tersebut.

“Ah, otoo-sama!” Shein langsung menyambut kedatangan ayahnya, dan memeluknya.

Duke Einverd sendiri merupakan pria yang ramah, dan cukup perhatian pada anaknya. Walau dia pulang dari pekerjaannya, sebenarnya setiap satu bulan sekali. Oleh karena itu, Shein dan Shien sendiri agak kaget juga dengan kedatangan ayahnya itu. Padahal satu bulan belum berlalu.

Shien masih tetap di tempatnya yang semula, di sudut ruangan tersebut. Tidak berniat untuk menyambut ayahnya, hanya membuang muka, dan melanjutkan latihannya.

Hubungan Shien dan Duke Einverd, ayahnya sendiri sebenarnya juga kurang baik. Walaupun Shien merupakan penerus leader Einverd selanjutnya, tetapi Duke Einverd sendiri entah kenapa sulit untuk menerima hal tersebut. Perasaan aneh?

“Nee, nee, otoo-sama, apa bawa oleh-oleh?” wajar saja, anak-anak seumur Shein pasti meminta oleh-oleh pada ayahnya yang habis berpergian lama ataupun jauh.

Duke Einverd seperti biasa mengacak-acak rambut Shein, anaknya yang paling lugu itu. Kemudian dia mengeluarkan sebuah bingkisan dari jubahnya, dan memperlihatkannya pada Shein.

“Ini… adalah lambang keluarga Einverd. Tidak sembarangan orang dapat mendapatkan bros ini,” Duke Einverd memasangkan bros tersebut di kerah baju Shein.”Dengan ini kau sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Einverd,” Duke Einverd tersenyum pada anaknya itu. Setiap seseorang anak berumur 7 tahun atau lebih, dia wajib mendapatkan pengakuan dari keluarganya, dan dianggap pantas sebagai member dari keluarga tersebut.

Mata Shein berkaca-kaca, dan masih memegangi bros tersebut, tidak mau menghilangkannya. Benar-benar di jaga, agar tidak lepas, ataupun rusak. Shein sendiri tidak menyangka dia bisa mendapatkan bros itu.

“Kukira aku tidak pantas mendapatkan ini…,” Shein masih memegangi brosnya. Perasaannya senang sekali, ketika dia diterima sebagai bagian dari Einverd.

Mata ungu Shien, menatap Shein dan ayahnya itu dari kejauhan. Tatapan Iri dan Dengki. Dia masih melanjutkan latihannya, dan malah semakin ganas, dengan menghancurkan banyak peralatan di sana. Duke Einverd juga melihat tatapan Shien tersebut, dan mengeluarkan sebuah bros lagi dari bingkisan tersebut.

“Shein, berikan ini pada kakakmu, ok?” cengir ayahnya itu, dan memberikan sebuah bros lagi ke tangan Shein.”Ayah ada keperluan, jadi tolong kau yang memberikannya padanya.”

Shein langsung mengangguk dengan bersemangat. Kemudian Duke Einverd keluar dari ruangan itu, melakukan sesuatu yang harus dikerjakannya di luar sana. Meninggalkan Shein dan Shien lagi di ruangan itu.

Shein kemudian menghampiri kakaknya, berniat untuk langsung memberikan bros Einverd itu. Dia menarik baju kakaknya seperti biasa.

“Nii-sama, coba lihat ini,… ini…”

Belum sempat Shein menyelesaikan kalimatnya, Shien menjatuhkan pedangnya ke lantai dengan sangat keras, bunyinya benar-benar terdengar karena pedang tersebut yang terbuat dari besi. Dia kemudian berbalik, melihat Shein dengan pandangan kebenciannya.

“JANGAN SENTUH AKU!” Shien mendorong Shein sampai terjatuh. Membuat anakl itu kebingungan dan menjatuhkan bros yang di pegangnya.

Shein tidak dapat berkata apa-apa, melihat kakaknya yang tiba-tiba berubah sifatnya. Entah kenapa kali ini Shein sulit sekali untuk berbicara lagi pada kakaknya itu.

“T-tapi, Shien nii-sama, ini bros dari otoo-sama, oleh-oleh untuk nii-sama juga,” Shein masih berusaha menyampaikan amanat ayahnya, untuk memberikan bros itu pada Shien juga.

Shien benci sekali bros itu. Melihatnya saja sudah kesal, dan Shein memaksanya untuk memakai bros itu. Shien kemudian mengambil kembali pedangnya, dan menghancurkan bros itu menjadi berkeping-keping pecahan.

“Aku tidak butuh bros ini. Cukup dengan keabsolutanku dan kekuatanku, aku sudah diakui oleh Einverd,” Shien kemudian beranjak, keluar dari ruangan itu.”Siapa juga yang butuh bros tolol itu,” gumamnya lagi sambil berjalan keluar.

=========================================================

Duke Einverd memasuki sebuah lorong tersembunyi di kediaman Einverd, kemudian terdapat sebuah ruangan. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Bisa di bilang orang-orang itu adalah orang-orang kepercayaan Duke Einverd.

Duke Einverd kemudian duduk dengan tenang. Di ruangan tersebut di sediakan meja bundar yang cukup panjang, seperti meja rapat. Duke Einverd duduk di paling ujung, maksudnya menandakan bahwa dialah leader Einverd.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu, pada kalian semua…. Pada saat ini kota Sabrie sedang dilanda masalah. Para Illegal Chain yang tiba-tiba berkeliaran di kota, itulah masalahnya,” Duke Einverd kemudian mulai bersandar di kursinya.”Aku ingin… kalian semua melindungi rumah ini, dan penduduk kota Sabrie. Lindungilah mereka semua, sampai kalian benar-benar menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.”

Orang-orang itu tentu menuruti perkataan Duke Einverd. Mereka menerima tugas mereka tersebut dengan senang hati. Melindungi adalah hal yang paling penting. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan ajal yang menanti, menyelamatkan dan melindungi. Itulah kewajiban mereka.

Kemudian Duke Einverd melirik ke seorang perempuan berambut coklat panjang, dan bermata violet, Claudia.

“Dan untukmu, Claudia… aku ingin kau yang menjaga kediaman Einverd ini. Aku percaya, kau bisa melakukan itu semua,” perintah Duke Einverd sambil tersenyum hangat, seperti biasa.”Lindungi… Shein dan Shien.”

Walaupun dia satu-satunya perempuan di rapat tersebut, Claudia merupakan orang yang paling kuat dibandingkan dengan orang-orang lainnya. Claudia memiliki chain yang hebat, sehingga Duke Einverd sendiri percaya gadis itu dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Claudia kemudian membungkuk, sebagai tanda dia menerima tugas tersebut.

“Aku akan melindungi Einverd dengan segenap tumpah darahku. Jika takdir mengatakan aku harus mati melindungi Einverd, dengan senang hati aku akan melaksanakan tugas tersebut,” ucap Claudia benar-benar lantang dan yakin akan ucapannya itu.

Duke Einverd merasa yakin sekali, Claudia dapat melaksanakan tugas ini dengan baik setelah mendengar janji Claudia yang diucapkannya dengan yakin dan penuh kepercayaan diri.

“Aku… percaya pada kalian semua. Kita tidak akan berlama-lama di sini. Para Illegal chain itu bisa saja sudah menuju ke sini, sekarang laksanakanlah pengabdian dan tugas kalian kepada Einverd.”

=======================================================

Claudia berjalan terburu-buru, menuju ke taman kediaman Einverd, untuk menyiapkan segala persiapan untuk menyerang illegal chain yang nanti pasti akan menyerang kediaman Einverd juga.

“Claudia-chan! Tunggu sebentar,” Shein yang kebetulan sedang di taman karena sedang curhat pada rosa alba tentang kakaknya itu, segera menyapa Claudia, dan berlari kearah Claudia.

“Shein-sama… aku tidak bisa bermain dengan Shein-sama hari ini… aku…,” Claudia tidak tega memberitahukan berita buruk itu.

Shein kemudian tersenyum, dan mengeluarkan sebuah benda yang dari di genggamnya.

“Aku tau itu, Claudia-chan… Claudia-chan pasti sibuk… aku hanya ingin memberikan ini, untuk dipakai oleh Claudia-chan,” Shein mengeluarkan sebuah cincin yang di buatnya sendiri dari sebuah bunga di taman, dan memasangkannya ke jari manis Claudia.”Untunglah ukurannya pas.”

Entah Claudia harus berbicara apa, air matanya langsung menetes, melihat jari manisnya tersebut. Yang di hiasi oleh bunga mawar putih, buatan Shein.

Shein tentu tidak tau apa-apa soal berita tentang kedatangan illegal chain itu. Mungkin dia mengira, Claudia hanya melaksanakan tugas biasa. Claudia menangis, dan entah kenapa dia merasa takut jika harus meninggalkan Shein, dan tidak dapat kembali di sisinya untuk selamanya.

Claudia tanpa ragu-ragu langsung memeluk masternya itu. Dia takut itu adalah terakhir kalinya dia memeluk Shein. Air mata Claudia tidak dapat tertahankan lagi, membuat Shein bingung akan keadaan itu. Kemudian, sambil memeluknya, Claudia berkata sesuatu pada Shein.

“In order to protect, even sadness will be cut apart, your heart always here…,” Claudia mengatakan itu, masih diiringi dengan isakan tangisannya. Dia buru-buru menghapus air matanya,”Kembalilah ke kamarmu, Shein… “

Shein mengangguk. Walaupun dia masih merasa bingung, kenapa Claudia menangis dan mengatakan kalimat itu. Shein dengan malas, berjalan ke kamarnya perlahan. Kemudian dia berbalik lagi, melihat Claudia yang masih di sana, mengawasinya agar Shein benar-benar ke kamar.

“Segera kembali ya, Claudia-chan! Aku… akan menunggumu,” Shein kemudian berlari ke kamarnya, segera mematuhi Claudia.

“Aku… akan segera kembali… aku tidak akan pernah meninggalkan Shein-sama…”

Claudia kini hanya sendiri di taman itu. Dia tetap memperhatikan masternya itu, sampai Shein benar-benar menghilang dari pandangannya. Memastikan dia benar-benar selamat.

“In order to protect,” Claudia mengaktifkan chainnya, merasakan hawa illegal chain yang sepertinya sebentar lagi akan menampakkan dirinya.

Para illegal chain itu mulai mengepung Claudia, Claudia tersenyum, dan masih memegangi cincin bunga yang diberikan Shein.

Satu-satunya kalimat yang keluar sebelum Claudia menyerang semua illegal chain itu, adalah…

“In order to protect, even sadness will be cut apart, your heart always here….”

=======================================================


bersambung ke postan selanjutnya..kagak muat..==;

_________________


siggy (c) me

"The one reflecting in the water surface is
the face of persona(me) who had eyes with a blue glass gem."
- Alfonze Alger -

Alfonze Alger
Admin
Admin

Posts : 10769
Points : 11096
Join date : 2009-06-18
Age : 24
Location : Bandung

Character Bio
Character Name: Alfonze Alger
Status: Gavium Family
Job: Knight, pandora elite officer, contractor,

View user profile http://pandora-hearts.forumotion.net

Back to top Go down

Re: [omake]Pure Heart Of Roses

Post by Alfonze Alger on Sun Aug 02, 2009 8:40 am

CHAPTER 3, PART 2
(baca postan sebelomnya, part 1)


========================================================

Shein berusaha menembus kerumunan pelayan dan maid yang sedang membereskan sisa-sisa illegal-chain dan kerusakan di taman kediaman Einverd tersebut. Para maid sudah menyuruh Shein untuk tetap di kamar, tetapi Shein tentu tidak menuruti mereka semua.

Banyak sekali darah. Sekarang taman tersebut dilumuri oleh darah, bahkan bunga-bunga rosa alba milik Shein terkena cipratan darah tersebut. Shein masih tetap tidak mengerti dengan keadaan itu.

“Shelly-chan, apa yang terjadi?” Tanya Shein yang mencoba bertanya kepada maid-maid yang sibuk itu.

Selly menangis, begitupun dengan maid-maid yang lainnya, melihat jasad seseorang, satu-satunya korban meninggal di kediaman Einverd. Dia telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.

“Shelly-chan? Ada ap--…,” Shein menghentikan kalimatnya, tercekat melihat jasad yang ada di depannya. Walaupun tidak jelas, karena wajahnya yang sudah di tutupi, Shein melihat tangannya, terdapat cincin bunga mawar putih yang Shein berikan.

Jasad itu penuh dengan darah. Shein tidak tau, harus melakukan apa sekarang. Dia takut. Takut untuk memastikan kalau itu adalah jasad Claudia.

“Claudia….chan? Itu bukan Claudia kan, Shelly-chan?” Tanya Shein, suaranya sudah jelas bergetar. Begitupun dengan tangannya.

Shelly tidak menjawab pertanyaan Shein. Dia buru-buru menarik Shein untuk kembali ke kamarnya. Tidak membiarkan anak berumur 7 tahun itu untuk melihat kejadian tragis tersebut.

“Ayo kembali ke kamar, Shein-sama.”

“T-tapi… Claudia…,” butiran air mata mulai menetes dari mata Shein, tidak tega melihat jasad itu. Shein segera di bawa kembali ke kemarnya oleh Shelly, dan tidak di bolehkan untuk keluar.

Shein kemudian terdiam. Di kamarnya yang sunyi dan sepi itu. Otaknya masih belum bisa menerima apa yang dilihatnya barusan. Begitupun dengan hatinya, yang masih percaya bahwa Claudia tidak mungkin meninggal.

Sepi. Dan sendiri. Shein berusaha menghentikan tangisannya, tapi rasanya percuma. Semakin dia menginginkan untuk berhenti, semakin teringat dia pada Claudia.

Shein kemudian terdiam di pojokan ruangan itu. Suaranya yang masih serak, menyanyikan sebuah lagu dengan pelan sekali di tengah kesunyian kamarnya itu.

I have fallen to my knees…
..As I sing a Lullaby of pain…
I'm feeling broken in my melody
..As I sing to help the tears go away…


Shein berusaha untuk mengungkapkan perasaannya saat itu, pada lagu yang dinyanyikannya.

Then I remember the pledge you made to me….

“Aku… akan segera kembali… aku tidak akan pernah meninggalkan Shein-sama…”

Itu janji Claudia padanya. Hati Shein semakin sakit ketika mengingat-ingat janji tersebut.

I know you're always there
To hear my every prayer inside
I'm clinging to the promise of a lifetime

I hear the words you say
To never walk away from me and leave behind
The promise of a lifetime


“Aku… akan segera kembali… aku tidak akan pernah meninggalkan Shein-sama…”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Shein. Dia sendiri masih percaya, kalau Claudia pasti akan menepati janjinya.

Find my way back from the storm
And you show me how to grow
Through the change….


Shein menghentikan nyanyian pelannya itu. Melihat ada orang di depannya. Walau ruangan itu gelap, Shein masih bisa melihat mata ungu kakaknya itu, Shien. Dia menatap Shein dengan tatapannya yang dingin, dan mulai mengulurkan tangannya pada Shein.

“Kau mau menjadi kuat?” Shien tersenyum iblis.”Aku akan membantumu.”

Apakah kekuatan itu adalah segalanya? Apakah aku harus memilikinya untuk melindungi orang yang penting bagiku?

Shein dengan ragu, menerima bantuan Shien itu. Dia tidak tau apa yang sudah direncanakan Shien.

“In order to protect, even sadness will be cut apart, your heart always here….”

Shein lagi-lagi teringat kalimat itu. Melindungi adalah segalanya. Itulah prinsip Claudia, dan Shein merasa Claudia juga ingin Shein menerapkan prinsip seperti itu.

Apakah aku harus melindungi? Ya, aku harus menjadi kuat untuk itu… aku tau, Claudia-chan menginginkan aku yang seperti itu…

“Jika kau ingin kuat, buanglah jauh-jauh sifat PENGECUT-mu itu, dan sifat bodohmu, semuanya… dan jadilah Shein yang baru mulai saat ini…”

Shein yang baru? Aku harus merubah sifatku? Seperti itukah?

Shein mengangguk, dan mulai menghapus air matanya.

“Tolong ajarkan bagaimana cara mengubah diriku sendiri. Jika itu dapat membuatku menjadi lebih kuat.”

Shien tersenyum licik. Adiknya itu sudah jatuh, terperangkap ke dalam lubang rencananya. Semuanya berjalan sesuai dengan yang Shien inginkan. Dan disinilah bermula, rencana Shien.


-END-



ok, yang mau DL OST omake ini...

PROMISE OF A LIFETIME- by KUTLESS

http://www.filestube.com/ba5069917d0f3f4b03ea/details.html

_________________


siggy (c) me

"The one reflecting in the water surface is
the face of persona(me) who had eyes with a blue glass gem."
- Alfonze Alger -

Alfonze Alger
Admin
Admin

Posts : 10769
Points : 11096
Join date : 2009-06-18
Age : 24
Location : Bandung

Character Bio
Character Name: Alfonze Alger
Status: Gavium Family
Job: Knight, pandora elite officer, contractor,

View user profile http://pandora-hearts.forumotion.net

Back to top Go down

Re: [omake]Pure Heart Of Roses

Post by Sponsored content Today at 5:46 pm


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum