Log in

I forgot my password

Who is online?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 33 on Fri Nov 01, 2013 6:20 pm
Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Absensi di sini
by Kurome Sun Nov 01, 2015 5:10 pm

» [Revive the Forum]
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:37 am

» Um.. hi, I guess?
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:35 am

» Do You Have Sixth Sense?
by Kurome Fri Jun 26, 2015 3:45 pm

» Website favorit kalian untuk baca komik online?
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:57 pm

» Biarkan Mata, Otak, Keyboard mengaum saat engkau mengetes mereka. xD~
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:56 pm

» Imaginary World
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:59 pm

» Komentar member di atas^
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:37 pm

» If you wish at fallen star, it will come true. Is that true?
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 3:56 pm

» Pengalaman Seram
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 12:48 pm

Fanlisting

[Fanfic] That Blue-Haired Girl

View previous topic View next topic Go down

[Fanfic] That Blue-Haired Girl

Post by Kencana Shiroi on Sat Apr 17, 2010 7:57 am

Disclaimer : Jun Mochizuki

Warning : OC, a little OOC

Pemeran tokoh utama ini adalah OC yang saya buat demi memenuhi Challenge.

_____________

That Blue-Haired Girl




"Toni, sekarang giliranmu jaga toko! Ayo, cepat ke sini!"
Terdengar seruan ayahku dari luar. Huh, ganggu tidur siang orang saja. Malas-malasan, aku bangun. Setelah menguap beberapa kali, aku pergi menemui Ayah, sebelum dia berteriak untuk kedua kalinya.
"Aku sudah datang, Ayah," kataku, sambil mengucek-ngucek mata.
Ayah menoleh ke arahku dan menghela napas panjang.
"Kamu ini, tidur saja kerjanya. Awas, jangan sampai pembeli melihatmu mengantuk seperti ini! Salah-salah mereka tidak mau berkunjung ke sini lagi," ancam Ayah.
Aku hanya mengangguk sekenanya. Ayah berlalu diiringi helaan napas untuk kedua kalinya. Aku duduk di kursi yang tadi ditempati Ayah dan menatap sekeliling. Bermacam-macam jenis boneka dengan berbagai ukuran dipajang di setiap rak.
Inilah aku. Toni Heitz, 15 tahun, anak tunggal dari pemlik Toko Boneka "Heitz", sekaligus satu-satu karyawan di toko kecil ini. Bila Ayah capek, aku yang bertugas menggantikannya menjaga toko. Bukan pekerjaan berat sih, mengingat aku hanya perlu membungkus boneka, melakukan transaksi, dan menjawab pertanyaan dari para pelanggan.
Ups! Aku mulai menguap lagi. Buru-buru kututup mulutku sebelum pembeli datang, walaupun jarang ada orang yang mau ke toko kecil ini.
Krieet…
Terdengar suara pintu dibuka. Wah, ada pembeli nih. Aku menatap sang pembeli, dan dalam sekejap aku terpesona. Dia adalah seorang gadis berambut biru muda, bermata biru, dan memakai baju biru. Pokoknya semuanya serba biru. Wajahnya juga lumayan imut, walaupun dia memasang tampang datar. Aku yakin dia pasti akan tambah manis bila tersenyum. Aduh, aku ini mikir apaan, sih? Buru-buru kucubit pipiku.
Gadis berambut biru itu melihat-lihat rak sejenak, dan mengambil beberapa buah boneka kelinci. Setelahnya, ia menghampiriku.
"Berapa semuanya?" tanya sang gadis.
"Eh, ah…"
Aku tersadar dan buru-buru menyebutkan total harganya. Setelah gadis itu menyerahkan uang dan aku memberikan kembaliannya, dia pergi membawa boneka kelinci itu. Tapi beberapa saat kemudian, dia kembali lagi.
"Eh, ada masalah apa, nona?" tanyaku heran.
Sang gadis mengeluarkan beberapa uang koin dan meletakkannya di hadapanku.
"Kamu kelebihan memberiku uang kembalian," jawabnya.
Aku terpana dan tak sanggup berkata-kata. Banyangkan, berapa banyak orang di dunia ini yang mau mengembalikan uang kembalian yang berlebih? Adanya sih mereka langsung senang dan menyimpannya. Jenis orang seperti benar-benar jarang.
"Terima kasih banyak, nona," kataku sambil menerima uang itu. Lain kali aku harus lebih berhati-hati menghitung uang. Untung gadis ini jujur.
Gadis berambut biru mengangguk singkat dan berlalu. Dalam hati aku menyesal karena tidak sempat menanyakan namnaya. Semoga aku bisa bertemu gadis itu lagi.

***

Sepertinya Dewa mengabukan permohonanku. Seminggu kemudian, gadis berambut biru itu datang lagi ke sini. Seperti minggu lalu, ia membeli boneka kelinci. Kesempatan ini tidak boleh kulewatkan. Aku harus tahu namanya!
"Namaku Toni Heitz, 15 tahun. Boleh aku tahu namamu, Nona?" tanyaku nekat ketika dia hendak membayar.
"Echo," jawabnya singkat sambil menyerahkan uang.
"Echo, ya? Wah, nama yang unik," kataku spontan tanpa niat apa-apa.
Echo hanya memasang wajah datar sehingga aku tidak bisa menebak apakah dia marah atau senang, lalu berlalu.

***

Setelah itu, Echo rutin datang ke sini. Pesananannya pun selalu sama. Boneka kelinci putih atau hitam. Sepertinya dia benar-benar suka boneka kelinci. Setiap kali dia datang, aku selalu mengajaknya mengobrol walaupun jawabannya singkat dan terkadang hanya dijawab dengan anggukan saja.
"Echo suka boneka kelinci, ya? Setiap kali ke sini, kamu selalu membeli boneka kelinci," kataku suatu hari.
"Eh?" Echo menatapku. "Echo membelinya untuk majikan Echo."
"Oh, begitu, ya. Majikanmu itu pasti wanita yang suka boneka kelinci," kataku.
"Majikan Echo itu laki-laki."
Eh? Apa katanya? Laki-laki? Terus terang aku kaget mendengarnya. Ada laki-laki yang suka boneka? Ah, pasti majikannya itu masih kecil. Anak cowok yang masih kecil main boneka bukan hal yang aneh.
"Uhm, memang majikanmu usianya berapa?" tanyaku penasaran.
"Tahun ini usianya 23."
UAPA?!! Kali ini aku benar-benar kaget. Ada laki-laki berusia 24 yang suka boneka? Ini benar-benar hal yang langka.
"Echo pulang dulu, ya," kata Echo dan berlalu dengan bonekanya.
"Sampai jumpa, Echo! Lain kali ke sini lagi, ya!" seruku semangat.

***

"Tidak mau!!" seruku keras-keras.
"Jangan teriak, Toni! Ayah masih belum tuli!" seru Ayah marah.
"Pokoknya aku tidak mau! Masa aku harus teriak-teriak mempromosikan toko ini sambil menggendong boneka!"
Aku protes keras dengan ide Ayah. Tak terbayang kalau teman-temanku melihatku mengendong boneka. Pasti aku akan dicap 'cowok aneh'.
Ayah menghela napas.
"Mau bagaimana lagi? Keuangan kita krisis karena kekurangan pembeli. Jalan satu-satunya promosi," kata Ayah.
"Ta-tapi…"
"Toni, kalau toko kita bangkrut, nanti kita mau makan apa? Hanya satu hari saja kok. Anggap saja ini sebagai pengalaman," kata Ibu halus.
Seperti biasa, kalau Ibu sudah memintaku, aku tidak bisa melawan. Akhirnya aku menganggukkan kepala dengan terpaksa.

***

Di sinilah aku sekarang. Berjalan-jalan di tengah kota, mempromosikan Toko "Heitz" dengan berteriak, sambil menggendong boneka yang cukup banyak. Sebenarnya aku malu, bahkan kurasakan mata orang-orang yang menatapku dengan aneh. Bahkan ada beberapa temanku yang meledek, yang langsung kuberi mereka jitakan di kepala. Untungnya mereka teman yang baik, dan mau membantuku membawa sebagian boneka.
Dan hasilnya lumayan. Banyak orang, terutama gadis kecil, yang tertarik dan bertanya di mana letak Toko 'Heitz'. Bahkan di antaranya ada yang membeli boneka untuk promosi yang kubawa. Tidak sia-sia juga usahaku.
"Ng? Kamu Toni 'kan?"
"Echo?" seruku kaget ketika melihat gadis berambut biru itu.
Tak kusangka akan bertemu dengannya di sini. Terus terang aku senang bertemu dengannya. Melihat wajahnya membuat capekku berkurang.
"Wah, siapa gadis manis ini? Pacarmu, ya?" ledek salah seorang temanku.
"Bu-bukan!" elakku.
"Tidak kusangka kamu punya pacar. Wah, aku jadi iri, nih!" ujar temanku yang lain.
"Sudah, jangan meledekku! Kalian pergi saja!" seruku marah. Entah bagaimana roman mukaku sekarang. Pasti sudah merah padam.
Teman-temanku patuh dan langsung menyingkir. Aku kembali menatap Echo.
"Ng, eh… sedang apa kamu di sini?" tanyaku sedikit malu, teringat ledekan temanku.
"Echo sedang jalan-jalan," jawab Echo.
"Oh begitu. Kalau aku sedang promosi tokoku. Dipaksa ayahku, sih. Pasti aku kelihatan memalukan, ya? Seorang laki-laki membawa-bawa boneka. Hahahaha.." Aku tertawa garing. Pasti Echo juga akan mentertawakanku.
Di luar dugaan, Echo menggeleng.
"Tidak. Kamu tidak memalukan. Walaupun kamu tidak rela, tapi kamu mau melakukannya demi ayahmu. Menurut Echo, itu hebat."
"Begitukah? Terima kasih banyak," kataku senang. Semangatku kembali terpompa. Ternyata Echo tidak menganggapku memalukan.
"Kalau begitu, Echo pergi dulu, ya,"
"Ah iya."
Aku mengawasi punggung Echo yang berlalu.

***

Hari ini perasaanku begitu riang. Seharian aku tersenyum terus dan bersiul-siul sampai Ayah dan Ibu terheran-heran. Mungkin karena perkataan Echo kemarin. Bicara soal Echo, sebentar lagi dia pasti datang ke 'Heitz'. Aku hafal jadwal dia ke sini.
Kreek…
Pintu terbuka dan aku tersenyum lebar melihat siapa yang masuk.
"Selamat datang di 'Heitz', Echo."


The End


_____________

A/N : Endingnya kok gaje begini, ya? Semoga Echo-nya tidak terlalu OOC. Sebenarnya tokoh Toni mau kubuat punya perasaan one-sided ama Echo, tapi nggak jadi. Terima kasih untuk yang sudah membaca fanfic ini.
avatar
Kencana Shiroi
Member
Member

Posts : 85
Points : 103
Join date : 2009-10-25
Age : 25
Location : Surabaya

View user profile http://kencana_kencana.livejournal.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum