Log in

I forgot my password

Who is online?
In total there are 2 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 2 Guests

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 33 on Fri Nov 01, 2013 6:20 pm
Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Absensi di sini
by Kurome Sun Nov 01, 2015 5:10 pm

» [Revive the Forum]
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:37 am

» Um.. hi, I guess?
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:35 am

» Do You Have Sixth Sense?
by Kurome Fri Jun 26, 2015 3:45 pm

» Website favorit kalian untuk baca komik online?
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:57 pm

» Biarkan Mata, Otak, Keyboard mengaum saat engkau mengetes mereka. xD~
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:56 pm

» Imaginary World
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:59 pm

» Komentar member di atas^
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:37 pm

» If you wish at fallen star, it will come true. Is that true?
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 3:56 pm

» Pengalaman Seram
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 12:48 pm

Fanlisting

Unforgotten Memories

View previous topic View next topic Go down

Unforgotten Memories

Post by Kaz on Wed Dec 30, 2009 3:42 pm

Unforgotten Memories


Featuring :
Echo Vii Springfield // Sound of Echo (NPC)
Alice Springfield // Alice
Jacob Klysierr // Jack (NPC)


Insert Song:
Every time You Kissed Me - Emily Bindinger


The Story based on 1600’s era




Night Glance City, Inggris
16 Maret 1657

Kota yang tenang. Hamparan salju mulai meninggalkan jejaknya sedikit demi sedikit. Meski udara masih dingin, ini menandakan bahwa musim semi akan datang. Kota yang penuh kedamaian, dibalik musim dingin yang akan berakhir, dan berganti dengan musim semi.

Namun..

Tidak untuk saat ini. Tak ada lagi keceriaan yang selalu terdengar oleh canda tawa anak-anak yang berlarian. Tak ada seorangpunyang sedang berkumpul, berkumpul di rumah masing-masing, berbagi kehangatan di depan tungku perapian untuk menunggu berakhirnya musim dingin.

Semua itu telah musnah.. Tragedi yang amat mengerika, kota ini sekarang berhiaskan bangunan runtuh, mayat yang tergeletak begitu saja.. Kota yang penuh dengan keceriaan itu telah sirna.. Dan berganti menjadi dengan dunia yang penuh dengan tragedi dan peristiwa berdarah.





Itulah yang dipikirkan oleh gadis bergelas light blue itu. Baginya, ini adalah sebuah peperangan yang, tak berguna sepertinya. Sebenarnya, ia sendiri tidak ingin berperang, namun semua itu baru saja dimulai.

Gadis mungil ini bernama Echo. Meski Dengan sigap ia menaiki kuda putihnya juga membawa sebilah pedang, lengkap dengan sarung pembukus pedangnya menuntun para pasukan ke tempat terjadinya perkara. Tepatnya di pusat Kota Night Glance. Seperti dugaan, tempat ini adalah tempat dimana ‘pesta berlumuran darah’ terjadi. Gadis ini masih 15 tahun, yang hanya menyandang nama keluarga Springfield dan lekas menjadi seorang Leader untuk generasi berikutnya. Hanya itulah yang dipegang teguh olehnya selama 15 tahun ini.

Meski dirinya selalu dimaki-maki oleh ayahnya sendiri, hal sepele seperti ini tidak menjadi masalah bagi gadis remaja bergelas light blue itu. Gelas light blue miliknya itu selalu mencerminkan dirinya yang pantang menyerah, dan agak terlihat suram sendu kalau sedang berganti kepribadian yang misterius. Kenapa? Karena ia adalah orang pemilik kepribadian ganda. Percayalah, jangan buat ia mengamuk. Atau nanti nyawamu akan melayang dalam sekejap.





Sepi, tak ada tanda-tanda penyerangan. Mungkin saja para The Great Aristocratic Families yang lain sedang menyiapkan strategi yang matang untuk mendapatkan Heartless. Inilah yang dilakukan para Keluarga Bangsawan selama berabad-abad lamanya.

Heartless, apakah itu? Menurut legenda mengatakan, adalah batu Kristal murni berbentuk hati yang katanya dapat mengabulkan paling mustahil sekalipun. Setelah itu, tak ada lagi informasi terperinci tentang legenda misterius bernama Heartless ini. Konon, ada yang mengatakan bahwa Heartless ini berkaitan dengan sebuah dimensi paling tabu yang ada di Night Glance City dan sekarang dijadikan sebagai penjara khusus bernama Hole of Nightmare.

Sudah lebih dari satu jam mereka disana. Akhirnya gadis bergelas light blue itu memimpin pasukannya untuk kembali ke kediaman Springfield. Sepertinya perang untuk hari ini berakhir sejenak. Walau ia sendiri tau itu adalah kemungkinan yang kecil sekali.

Dugaannya meleset dengan telak. Baru saja ia menyeruput tehnya dan bersandar di kursinya, suasana kembali genting. Menurut para Shrine Maiden – para Pendeta penjaga Heartless – memberi kabar bahwa Heartless telah terpecah menjadi 4 kepingan. Dan alangkah kagetnya mereka bahwa satu kepingan itu muncuk di kediaman ini. Echo sebenarnya ogah-ogahan, namun ini merupakan perintah.

“Echo-ojousama.. Heartless telah menampakkan dirinya..” seorang Shrine Maiden berseru. Ia amat antusias menyampaikan hal ini.

Echo merasa amat tidk senang, karena istirahatnya yang tenang itu terganggu hanya karena suatu hal. “Bisakah kau jelaskan dengan rinci, Maria?”

“Tepatnya kemarin, kami para Shrine Maiden meramalkan keberadaan batu Heartless sesuai perintah. Namun, di ramalan itu mengatakan bahwa Heartless akan terpecah menjadi 4 kepingan, Nona.” ucap Maria, sang Shrine Maiden keluarga springfield.

“Terpecah menjadi 4 keping?” Echo mengerutkan dahinya. Tidak mungkin. Mustahil Heartless terpecah menjadi 4 bagian. Kalau iya, siapakah gerangan yang memecahkan batu keramat itu? Ia berani bertaruh bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya.

“Ya, dan kami baru saja menemukan kepingan itu di kediaman ini.” ucap si Pendeta ini tanpa menghentikan geraknya.

…”Eh?” Echo menghentikan geraknya disini. Heartless ada di kediaman ini? Yang benar- saja. Bisa-bisa terjadi perang besar-besaran di kediaman ini. Sayang beribu disayangkan, tak ada celah untuk mengelak. Gadis bergelas light blue itu mempercepat langkahnya bersama beberapa pengawal mengiring-iringi dibelakang.


...aneh tapi nyata.


Mungkin itu adalah kesan pertama yang kau dapatkan saat melihat ini. Sungguh bukan main luar biasa keajaiban ini. Kepingan Heartless sekarang berada di hadapannya. Meski hanya sepotong kecil, kekuatannya amat sangat berharga. Lalu, dimana kepingan Heartless yang lainnya?

“Echo, anakku…” suara seorang laki-laki dewasa yang tak asing baginya mengagetkan Echo. Tak lain dan tak bukan adalah sang Ayah yang amat dibenci olehnya, Raven Nel Springfield. Gadis bergelas light blue itu bergidik, tak mau membuka mulut atau menyapanya.

“Ini perintah untukmu…” mendadak muncul sebuah lubang hitam, dan pria paruh baya itu berani-beraninya mendorong anaknya sendiri kedalam lubang hitam tersebut. Echo tetap bertahan, namun pegangannya terlepas sehingga ia terseret kedalam dunia kegelapan.


I know... This is my DESTINY…
Can I escaped from thi nightmare?
I hope I can do it…


~:*****************************:~


-kelam..

Suara gemercik air terdengar samar-samar, tiupan angin, bau basah yang begitu asing untuk di hirup memecah suasana, termasuk membangunkannya dari kehampaan. Gadis ini mencoba membuka matanya.

“Lihat, sang Penguasa telah tersadar dari tidurnya…” terdengar suara-suara yang sangat asing disekelilingnya.

…Penguasa? Apa maksud perkataan mereka? Siapa mereka?

“Sst.. Jangan berisik.. Kau membuatnya terganggu…” suara-suara itu kembali bermunculan. Akhirnya Echo dapat membuka kedua matanya. Dilihat beberapa sosok monster, lalu beberapa orang yang memakai jubah berwarna hitam.

“Siapa kalian?” tanya Nona bergelas Lightblue itu dengan lantang dan tatapan yang serius, memperhatikan gerak-gerik mereka.

Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi disini? Ia berusaha mengingat.. mendadak ingatannya berkelit sesaat, kepalanya terasa sakit dan pusing. Echo berusaha bangit, namun sebuah tangan menahan geraknya.

“Yang Mulia, Sang Penguasa Hole of Nightmare…” mereka yang ada dihadapannya berlutut dan memberikan hormat pada gadis ini yang disebut-sebut sebagai ‘Penguasa’.

Suasana begitu hening, mendadak mereka mengangkat Echo dan membawanya ke sebuah.. singgasana kerajaan sepertinya. Tapi, siapa mereka? Pertanyaan itu terukir dalam benaknya.

Kembali memejamkan mata sejenak. Rupanya monster itu menghilang dalam sekejap mata. Ia menjadi terpuruk dalam kehampaan dunia yang ia pijakkan kali ini. Selang beberapa waktu, gadis itu membuka kedua matanya. Bersandar pada tempat duduk, sambil melihat sekeliling tempat itu.


--asing…


“Rupanya ada Penguasa yang baru, ya… Tak dapat disangka-sangka kalau Penguasa kali ini… perempuan..”

Sekarang terdengar suara laki-laki. Siapa lagi dia? Echo melihat sekelilingnya, mencari sumber suara itu. Dan, aha.. didapatnya seorang lakilaki tengah berdiri dan bertepuk tangan. Pancaran mata berwarna blue shappire, dan rambut panjang pirang keemasan yang dikepang kuda. Wajah yang terlihat bijak dan senyuman yang manis muncul menghiasi wajah pria bergelas blue shappire itu.

Hal ini membuat Echo terpesona. Yang ia ingat hanyalah.. ayahnya mendorong diri Echo yang malang kedalam lubang hitam. Tapi.. kemudian ia terjatuh kemana? Apakah ia terjatuh kedalam lubang kematian seperti halnya ‘surga’ atau ‘neraka’?

…selang beberapa detik terpesona dengan pemuda itu, Echo segera menepuk-nepuk pipinya sendiri dan akhirnya kembali sadar. “Oh, maaf.. Tadi aku melamun sebentar…” ia menjadi salah tingkah. Echo merasa mulai timbul perasaan ‘suka’ terhadap orang ini. Mungkinkah cinta pada pandangan pertama? Benar-benar konyol…

“Oh ya, Nona.. apa anda baik-baik saja dengan luka dikepalamu itu?” pemuda itu mendekat dan menunjuk sebuah torehan luka yang mengucurkan banyak darah di kepala Echo yang mungil.

“…luka?” Echo mencerna setiap kata pemuda itu baik-baik. Eh?! Tak dapat disangka kalau ia sedang terluka. Dengan perlahan Echo memegang pelipisnya. Astaga! Tangannya yang mungil dan berbungkuskan sarung tangan dari kulit itu menjadi merah. Wajahnya seketika pucat dan ia tumbang disaat seperti ini. Semoga saja ada yang menolongnya.




‘Apakah pertemuan ini sudah menjadi TAKDIR? Aku tak menyangka.. akan sampai sejauh ini…’



~:*****************************:~


Semenjak Echo berada disini, kesehariannya berubah drastis. Para monster-monster yang hidup disana selalu menghormati Echo, sang Penguasa. Monster ini atau yang disebut sebagai AXLE selalu menemani Echo, bahkan sungguh baik hatinya mereka memberi nama panggilan untuk Penguasa mereka dengan nama Sound of Echo. Berhari-hari ia disana, barulah Echo menyadari suatu hal bahwa tempat ini tak lain adalah Hole of Nightmare.

Pemuda bergelas blue shappire itu sudah sering menemani dan bertemu dengannya. Meski sering bertemu, mereka hanya berbicara sedikit saja. Mungkin dikarenakan Echo yang berganti kepribadian sebagai seorang Echo yang Misterius dan suram.

“Kenapa kau bisa sampai ditempat ini, Nona?” pemuda itu membuka topik pembicaraan.

“Entahlah… aku tak mau meningat hal seperti itu…” Echo berkata dengan amat simple.

Biasanya, setelah itu pembicaraan mereka akan terhenti. Kedua orang itu saling diam tak bergeming. Memangnya kau harus membayar untuk berbicara sepatah-dua patah kata? Karena ia makin tertarik dengan Nona berkepribadian ganda ini, pemuda ini terus mengajak mengobrol.

“Oh begitu… perkenalkan, namaku Jacob Klysierr. Orang-orang memanggilku dengan nama Jack atau Jacob. Bagaimana denganmu?”

…diam “…”

“Kau tentu punya nama kan, Nona?”

“ …” mengangguk, berarti YA.

“Kalau begitu siapa namamu?”

“….Echo…” kata gadis itu dengan tenang dan datar. Seperti inilah Echo yang sebenarnya, pendiam dan selalu tenang.

“Echo? Nama yang bagus.. Aku suka nama itu.” Jack tersenyum memuji pada ‘sahabat’ barunya.

“……..terimakasih…” gadis ini hanya tersipu-sipu dan menunduk.

Keduanya telah rehat sebentar. Tak terasa sudah 2 hari terperangkap disana. Disaat-saat seperti itu, Echo mendapat kabar bahwa ada seseorang selain mereka yang terperangkap pula ditempat itu.

“Kau tahu, Echo.. Sebenarnya ada seorang lagi yang menjadi tawanan disini.” ucap Jack dengan pelan.

“….oh… Aku tak peduli akan hal itu…” Echo seperti biasa, merespon atau menjawab dengan simple dan tidak ribet. Seperti yang diketahui, ia berkepribadian ganda.

Jack tersenyum melihat Echo yang sering salah tingkah itu. “Saat kutanya padanya, ‘Siapa namamu?’, gadis itu menjawab bahwa namanya adalah.. siapa ya.. aku lupa akan hal itu. Hehehe” cengir Jack. Mendengar hal itu, Echo sempat-sempatnya kembali ceria seperti dulu.

“Ahahahahaha! Rupanya Jack pelupa! Ahahahaha!”

“Syukurlah akhirnya kau bisa tertawa juga…”

“Maaf, maaf.. Aku ini kan kepribadian ganda jadi aku kemarin tak bisa terta-“, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Jack segera mencium pipinya dan segera tersenyum.

“Kau benar-benar aneh…” ucapnya. Lalu ia mengacak-acak rambut Echo dengan pelan. Mendapat ciuman di pipi saja sudah membuat Echo memerah.

Gadis bergelas light blue itu mengalihkan pandangannya ke langit-langit tak berporos, berwarna hitam pekat. “Itulah takdir…” katanya singkat.


‘Kuharap… Kenangan ini akan terus terkenang dihatiku…’


~:*****************************:~



Oh oke, chapter 1 akhirnya di post juga.. m (_ _) m
maaf banget kalo jelek =w=

Semua karakter di dalam cerita, semua setting di dalam cerita adalah dari forum saya MIRACLE OF HEARTLESS...

bisa dibayangkan kalau..

Hole Of Nightmare = Abyss
Night Glance City = Sabriel City
The Great Aristocratic Families = Four Great Duke Houses
Axle = Chain [beda karena tidak ada 'kontrak'. Axle selalu merusak sesuka mereka, sedangkan chain butuh 'kontrak' untuk keluar dari Abyss]

oke sebelumnya terimakasih... m(_ _)m
avatar
Kaz
Member
Member

Posts : 2916
Points : 2989
Join date : 2009-06-24
Age : 20
Location : /Invisible/ Youtaite World

Character Bio
Character Name:
Status:
Job:

View user profile http://flavors.me/natsuno

Back to top Go down

Re: Unforgotten Memories

Post by Kaz on Thu Jan 07, 2010 3:03 pm

Part II
-Unforgotten Memories-





Gadis ini bernama Echo Vii Springfield. Nama yang cukup simple dan mudah diingat. Begitu banyak alasan sang Ibunda Lavina memberikan nama pada anak pertamanya ini dengan Nama Echo. Apakah karena iseng semata? Entahlah. Tentu saja hanya sang ibu yang mengetahui alasannya.

Seperti yang diketahui, dalam bahasa Inggris, Echo berarti ‘gema’ atau ‘gaung’. Singkatnya adalah sebuah pantulan suara. Sang ibu saat itu memang amat gemar menyanyi dan ahli dalam daya tarik suara. Mungkin saja ia ingin menurunkan bakatnya pada sang anak. Dan Vii adalah penyambung nama, sepertinya. Lalu Springfield, dalam bahasa Inggris berarti adalah Padang Musim semi. Ini adalah nama yang mau tak mau harus disandangnya.

Echo Vii Springfield,

Miss Echo, Sound of Echo.

Gagasan yang cukup bagus dari para bawahannya untuk memberikan nama Sound of Echo kepada Pemimpin mereka. Suara yang menggema… Kiasan yang lumayan menarik. Seperti kekuatan yang dimiliki Echo, suara yang dapat mengendalikan para bawahannya dengan mudah.





“Dimana portal perbatasan dimensi?”


Seperti yang kalian ketahui di cerita yang lalu. Kilasan baliknya, ditemukan salah satu kepingan Heartless yang muncul di kediaman keluarga Springfield. Echo melihat keadaannya karena perintah tetapi portal menuju Hole of Nightmare terbuka. Dan ia didorong masuk oleh ayahnya kedalam dunia kegelapan tersebut. Kemudian ia diangkat menjadi Penguasa Hole of Nightmare. Tak terasa 2 hari dilaluinya disana, Echo berkelana dengan seorang pemuda yang katanya adalah seorang Knight bernama Jack atau Jacob. Saat ini, mereka sedang mencari jalan keluar dari dimensi tabu itu.

“Mana kutahu…” Echo lagi-lagi berkepribadian suram.

“Kau itu Penguasa dunia gelap dan tabu ini, tapi tak tahu apa-apa…” Jack tersenyum tipis dan menggandeng tangan Echo. Lagipula ia tak mau memaksakan kehendaknya, toh Echo sendiri juga baru.

Gadis bergelas light blue itu memalingkan wajahnya. Memang menyenangkan menjadi ‘Penguasa’, namun para ‘bawahannya’ sama sekali tidak membantu. Teringat pada sang adik di rumahnya, membuat dadanya terasa sakit seperti dihantam ribuan tombak.

…”Kau tak apa?” Jack bertanya pada Echo dengan suara pelan dan tanpa menoleh.

Nona Penguasa ini terdiam. “Aku.. tak apa..” ia menundukkan wajahnya, teringat akan sebuah janji pada adik kesayangannya, Alice.

“Kak, setelah kakak pergi.. Cepat pulang yah… Aku nggak mau..kesepian…”

“Tenang.. Kakak janji… aku pasti… akan pulang dengan selamat, untuk menemanimu…”


Kata-kata itu terus menghantuinya. Mengingat hal itu tiba-tiba ingatannya berkelit. Muncul kenangan-kenangan buruk yang sudah lama ia lupakan. Gadis itu terpuruk dalam kesedihan yang mendalam, lalu ia terduduk. Tangannya melepas genggaman Jack. Nona manis ini sedang shock.

“Ke..na..pa…? Kenapa kenangan itu terus menghantuiku! Kuharap.. mimpi buruk ini segera berakhir!!” Echo makin shock, airmata mulai muncul di pelupuk matanya, dan menetes. Tak dapat dihentikan lagi. Melihat nona didekatnya itu menangis, Jack mendekat dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

…”Aku memang tak tahu apa-apa. Namun, aku tahu bagaimana rasanya.. Perasaan ‘dingin’ saat terpuruk dalam kesendirian.. aku juga pernah mengalaminya.. Kau kesepian, kan?” suaranya terdengar pelan, namun bijak. Hatinya yang membeku telah luluh-lantah karena perkataan itu. Echo menangis dalam pelukan itu, hingga akhirnya ia tertidur sejenak. Baginya ini adalah kenangan terindah selama di Hole of Nightmare.

‘Andaikan aku dapat keluar dari mimpi buruk itu.. Aku takkan menderita seperti saat ini…”


~:*****************************:~


Tak terasa sudah menuju hari ketiga. Echo berjalan cepat sambil menuntun Jack yang ada dibelakangnya. Ia sangat terburu-buru karena menurut para AXLE, ada sebuah portal dimensi terbuka menuju dunia nyata. Setelah cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, sampailah kedua orang ini disebuah ‘pintu’. Tanpa basa-basi lagi, Echo membuka pintu itu. Dan amat sangat sulit dipercaya. Keduanya berada di halaman depan Kediaman Springfield.

“Echo-oneesama? Itukah kau?” terdengar suara nyaring nan merdu yang taka sing ditelinganya. Matanya sejenak melirik kesegala penjuru, mencari suara tersebut. Ia mendapatkan seorang wanita berambut pirang keemasan dan bermata emerald green dari kejauhan, sedang berlari kearahnya. Tak salah lagi, ia adalah Alice, adik kesayangannya.

…”Alice!!” Echo amat gembira melihat adiknya. Senyuman manis berkembang di bibirnya. Dipeluknya adik tersayang dengan rasa penuh rindu.

“Kemana saja selama ini kak? Aku terus menunggu kehadiranmu…” Alice membalas pelukan kakaknya. Ia sekilas melihat seorang pemuda tampan yang rupa-rupanya tak asing di matanya.

“Lho? Kau Jack, Jacob Klysierr yang ada di Hole of Nightmare itu kan? Kenapa kau bisa sampai disini?” tanya Alice yang kemudian melepas pelukannya dari Echo.
‘Tunggu.. Alice mengenal Jack? Mengapa ia bisa kenal?’ Echo bergumam sejenak.

“Ah! Kau tawanan di Hole of Nightmare itu kan? Kalau tidak salah.. Alice kurasa?” Jack tersenyum pada gadis bergelas emerald green yang ada di hadapannya. Sungguh mengejutkan jika Alice memasuki dunia yang sama dengan Echo.

…”Ah.. Jadi, gadis yang kau ceritakan waktu itu adikku ya?”

“Adik? Tunggu.. kalian kakak beradik?” Jack menjadi keheranan. Pantas saja kedua gadis didepannya terlihat amat mirip sekali.

“Tentu saja, bodoh! Ahahahahahahahaha!!” Echo dan Alice tertawa melihat Jack yang menjadi salah tingkah itu. Akhirnya mereka bertiga saling menertawakan satu sama lain. Benar-benar hari yang penuh canda dan tawa.





Mungkin sudah takdir kalau usianya harus bertambah tiga tahun, bukannya tiga hari. Artinya, selama tiga tahun itu gadis bergelas light blue itu menjalani hidupnya di Hole of Nightmare selama 3 hari! Sungguh aneh tapi itulah takdir.

“Hei, dik.. Kenapa kamu bisa masuk Hole of Nightmare? Berapa lama dikurung?”

“Entahlah, aku tak tahu juga… Disana aku hanya terkurung selama satu hari waktu Hole of Nightmare, atau satu tahun di dunia nyata.” Alice hanya mengangkat bahunya, ia sendiri tidak tahu pasti mengapa masuk ke dalam dimensi tersebut. ”Aku yakin semua orang akan terkejut saat mengetahui kepulanganmu.. Kukira kau telah tiada…”, lanjut gadis berambut pirang keemasan itu sambil mengibaskan rambutnya yang terurai panjang.

“Hee.. Mereka tak perlu repot-repot untuk terkejut karena kedatanganku..” Echo tersenyum kecil. Diliriknya Jack yang dari tadi hanya diam saja, tak bergeming. Ia menghela napas, kemudian ia menyikut Jack.

“Kau itu.. bicara dong! Jangan merasa terasingkan begitu..”

Jack hanya tersenyum. Masih tak mau membuka mulutnya. Echo tak merasa puas, akhirnya dicubit pipi Jack dengan pelan “Bicara atau kucubit terus nih?”

“Aduduh.. iya, iya..” katanya. Kemudian Jack menggendong Echo dengan gaya bridal style. Echo memerah, tak dapat berkata apa-apa. Melihat itu, Jack tertawa kecil lalu menurunkan Echo.

Hari itu penuh dengan canda tawa dan kegembiraan. Lalu acara makan malam penyambutan kembalinya Echo sudah selesai dipersiapkan. Hari itu adalah sehari sebelum acara ulang tahun kedua kakak beradik ini. Alice merasa tidak dianggap dan terkucilkan, makanya ia memilih untuk tetap diam.

“Alice, kau kenapa?” Echo menepuk pundak Alice yang sedang melamun. Karena itu Alice terbangun dari lamunannya.

Mendengar sang kakak bertanya seperti itu, ia terdiam sejenak. Lalu menunjukkan senyuman manis di bibirnya. “Aku tak apa-apa kok…”

“Kau tak senang dengan kepulanganku?”

“Tentu saja aku senang..” Alice memeluk kakaknya dengan erat. Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan kearah ruang makan. Sesampai disana, mereka duduk di kursi masing-masing dan dilihatnya di meja makan terhidang berbagai makanan. Echo duduk di kursi paling ujung, menandakan bahwa ia adalah ketua atau pemimpin. Semua orang di dalam ruangan itu menyantap hidangan masing-masing. Kecuali Echo, ia merasa tak berselera makan.

“Aku sudah kenyang…” gadis ini bangkit dari tempat duduknya. Padahal makanan miliknya belum habis dimakan. Tiba-tiba seorang maid menghampirinya.

“Nona, ada suatu informasi dari para Shrine Maiden kalau…” maid itu membisikkan suatu hal penting dengan pelan hingga tak ada yang dapat mendengarnya kecuali Echo.

“Hm? Baik.. Aku mengerti…” ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian memilih untuk kembali duduk dan menyeruput tehnya. Maid itu segera kembali ketempat.

“Oneesama.. ada apa?” Alice penasaran dengan apa yang tadi disampaikan maid untuk Echo, kakaknya.

“Tidak, bukan apa-apa.. Ohya, Jack.. Kau tinggallah dirumah ini. Bagaimana?”

“Sudahlah, tak usah repot-repot..”

Echo tidak mendengarkan perkataan Jack. “Maid, siapkan kamar untuk tuan Klysierr. Perlakukan dia sebagai tamu penting dirumah ini.” Perintah Echo sambil menyeruput tehnya beberapa teguk lagi. Para maid mengangguk dan segera menjalankan perintah. Ia ingin sahabat barunya untuk menetap di kediaman ini.

Melewati tiga hari di Hole of Nightmare, kembali setelah tiga tahun, menjadi seorang ‘Penguasa’ Hole of Nightmare, entah hal ini merupakan pertanda manis, ataukah pertanda buruk baginya. Orang-orang terutama para The Great Aristocratic Families pasti akan sangat terkejut apabilaa mengetahui bahwa nona manis ini merupakan Penguasa Dunia Terkutuk dan tabu di dunia lain. Itulah takdir untuknya, dan takdir itu tak dapat dielakkan tentu. Ini menjadi rahasia kecil antara Echo dan kawannya Jack.

Tetapi, kebahagiaan itu tak akan bertahan dengan lama. Kebahagiaan takkan selalu menemanimu, Echo. Ingatlah itu.



~:*****************************:~


Malam yang dingin. Echo keluar dari kamarnya dan menuju balkon. Ia menatapi langit-langit yang berhiaskan gemerlap bintang, tidak seperti dulu saat ia masih ada di Hole of Nightmare. Memandangi pemandangan yang indah, suasana begitu sunyi karena semua orang telah tertidur dengan lelap. Kesunyian itu terpecah ketika gadis ini bersenandung sebuah lagu.

Every time you kissed me
I trembled like a child
Gathering the roses
We sang for the hope

Your very voice is in my heartbeat
Sweeter than my dream
We were there
In everlasting bloom..

Roses die
the secret is inside the pain
Winds are high upon the hill
I cannot hear you
Come and hold me close
I’m shivering cold in the heart of rain
Darkness falls, I’m calling for the dawn…


“Echo-chan bernyanyi dengan suara yang amat merdu…” pemuda bergelas blue shappire itu tiba-tiba muncul dari ambang pintu kamar yang terbuka. Itu pasti Jack.

“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘-chan’…” Echo tersenyum kecil, menyambut kedatangan Jack.

“Tidak mau.”

“Panggil Echo saja”

“Tidak..”

“Panggil!”

“Tidak..”

“Ini perintah! Panggil Echo”

"Tidak mau!"

"Huh.. Kalau begitu aku marah..."

...tertawa kecil. “Echo…”

“Nah, kau bisa kan? Jangan pakai embel chan la- “ ucapannya terhenti karena Jack telah menariknya dan memberi kecupan di bibir Echo dengan lembut. Kemudian ia melepasnya.

“Selamat tidur, Echo-chan…” Jack tersenyum lalu keluar dari kamar itu, tak lupa untuk menutup pintunya. Echo memerah, amat memerah. Tak dapat disangkal kalau ia lagi-lagi dicium dibibirnya oleh orang yang disukainya selama itu. Mungkin cintanya terbalaskan. Akhirnya gadis ini segera tidur dengan perasaan yang berbunga-bunga itu.

Kisah bahagia itu pastilah tidak langsung berhenti sampai disana. Masih ada banyak hal yang belum dikerjakan dan masih dalam kategori ‘belum diketahui secara pasti’. Apakah ada peperangan antar keluarga sekali lagi? Tidak ada yang dapat memastikannya.

Hari itu berakhir dengan berbagai kenangan dan begitu banyak kejutan didalamnya. Tak terasa memori mereka makin bertambah. Hingga tak ada yang menyadari, bahwa esok hari adalah ‘peristiwa berdarah’ di mana semua hal yang ingin kau hindari akan terjadi.

I knew this would happen happen
I know .. it's time I go back there ..
I know .. because this is destiny
The Destiny that I can’t avoid it...


~:*****************************:~
avatar
Kaz
Member
Member

Posts : 2916
Points : 2989
Join date : 2009-06-24
Age : 20
Location : /Invisible/ Youtaite World

Character Bio
Character Name:
Status:
Job:

View user profile http://flavors.me/natsuno

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum