Log in

I forgot my password

Who is online?
In total there are 3 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 3 Guests

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 33 on Fri Nov 01, 2013 6:20 pm
Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Absensi di sini
by Kurome Sun Nov 01, 2015 5:10 pm

» [Revive the Forum]
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:37 am

» Um.. hi, I guess?
by Kuro Usagi Fri Sep 04, 2015 12:35 am

» Do You Have Sixth Sense?
by Kurome Fri Jun 26, 2015 3:45 pm

» Website favorit kalian untuk baca komik online?
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:57 pm

» Biarkan Mata, Otak, Keyboard mengaum saat engkau mengetes mereka. xD~
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 7:56 pm

» Imaginary World
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:59 pm

» Komentar member di atas^
by Phantomhive_Earl Mon Oct 28, 2013 4:37 pm

» If you wish at fallen star, it will come true. Is that true?
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 3:56 pm

» Pengalaman Seram
by Phantomhive_Earl Sun Oct 27, 2013 12:48 pm

Fanlisting

[omake] the lack of partitures

View previous topic View next topic Go down

[omake] the lack of partitures

Post by Rheaffel on Mon Jul 06, 2009 12:46 am

the Lack of Partiture
some Additonal Story from the other side


Featuring
Rheaffel Kharisteria -- Rheaffel
Shein Einverd -- Darktray
Raven Novadion -- Darktray


... Pisuh kelam--

Aku hanya bersandar di antaranya, tiang-tiang yang membatasi gerakku, yang menutup langitku, yang menahan asaku. Di sini adalah sangkar, aku hanya bisa merundukkan kepala serendah mungkin, aku adalah yang terhina walau terlihat memukau di hadapan mereka.

Putih--

Apakah yang putih selalu bersih? Apakah yang bersih selalu indah? Dan apakah yang indah selalu terpuji?

Siapakah aku?

Seekor burung... hanya sebuah lambang kebesaran yang sama sekali tidak agung. Bukan, aku bukan seekor Phoenix seperti yang mereka kira. Aku hanya seekor unggas yang tidak bisa mengepakkan sayapnya. Terkurung, selamanya.

Menderitakah aku? Kurasa tidak... atau aku sudah tidak bisa lagi merasakannya. Kenapa semua bungkam, kenapa tidak ada yang berbicara padaku, kenapa semuanya memandangku seakan aku adalah DIA yang hebat, yang anggun, yang bisa segalanya!

Tidak...
Aku bukan DIA yang seperti itu, aku tidak memiliki sosok sempurna yang bisa dibanggakan. Tidak tahukah mereka kalau aku ini hina? Perlukah bukti agar mereka bisa melepaskanku dari sini? Dari sangkar ini?


///

"Phoenix?!"

Suara seseorang membangunkanku dari lamunan kelam itu. Ah ya, sudah berapa lama aku ada di sini, 100? 200? Atau 1000 tahun? Rasanya sudah selama itu, tapi pada kenyataannya tidak berapa lama sejak aku meninggalkan tempat mengerikan itu, Abyss.

Suara rendah, tampang agak sedikit sayu, dan rona mata yang memukau. Indah... kah?

Bangun Phoebe, jangan suka melamun. Lihat siapa yang memanggilmu dan tundukkan kepala dengan hormat. Siapapun dia, di keluarga ini, kau harus menunjukkan rasa hormatmu dengan dalam... dengan tulus. Dan mintalah iba darinya agar kau diperkenankan bebas, siapa tahu dia adalah orang yang bisa membuatmu terbang kembali, keluar dari sangkar itu untuk selamanya.

--diamlah!

Aku merundukkan kepala unggasku dalam-dalam. Siapapun dari keluarga ini harus kuberi penghormatan yang tinggi. Setidaknya mereka telah mengeluarkanmu dari tempat penuh kenistaan itu dan kini kau bebas walau harus kembali terkekang dalam sangkar itu.

"The name is Phoebe," seorang pelayan memberitahukan namaku padanya. Simple. "Why you looking her with that sight sir?"

Pria itu menggeleng dan memperhatikanku.

--apa?


///

"She's so cute, isn't she?"

Aku terkantuk lagi dalam tidurku, masih dalam wujud... manusia?

--weird?

Ya, aku adalah Phoebe si burung Phoenix atau... kurasa hanya kelihatannya saja. Keahlianku ada beberapa, tidak spesial hanya itu-itu saja, dan kurasa membosankan. Tidak tahu?

Aku adalah Chain? Tahu apa? Aku sendiri tidak tahu... tapi mereka menyebutknya begitu, suatu makhluk hidup yang bisa diikat kontraknya oleh para manusia. Jadi aku bukan manusia? Bukan... tepatnya bisa berubah menjadi manusia tapi bukan manusia.

Wujud manusiaku simple, tidak begitu menyenangkan untukku. Aneh dan... menyebalkan. Tapi siapa tadi yang mengatakanku manis? Mataku tidak bisa menerawang lebih jauh lagi, ingatanku buyar dan aku kehilangan minat pada diriku sendiri.

... "Oh well, as you know... She's phoenix. Intresting fact for me,"

Itu suara Masterku, jauh... di mana?

--who?

Badanku berat, tidak dapat menaikkan kepala untuk melihat siapa-siapa yang ada di tempat itu. Lagipula, ini di mana? Kenapa aku di sini dan apa yang kulakukan di sini?

Hilang, kabut... aku tertidur lagi.

///

"It was a... Chain?"

Kembali ke masa itu lagi? Kenapa ada Masterku di sana, berdiri menatapku dengan pandangan binar seakan telah menemukan sesuatu.

"Yes, it's our legendary Chain. As You know, our family had save her from Abyss and until now, this Phoenix always with us," pelayan itu menjelaskan. Pandanganku berubah memperhatikan jalannya cerita panjang ini.

--kapan selesainya?

"Who's the collector?"

"No one," yah tidak ada yang mau denganku setelah ITU... berakhir, aku dikurungnya. Kapan bisa lepas?

"Can I?"

Apa katanya?

///

"You make a contract with her without any reason?" setengah tertawa suara itu membangunkanku, siapa? --ini membuatku bertanya terus-menerus.

"Hm..."

"Oh well,"

Mereka berhenti berbicara? Atau bosan berbicara tentangku?

Suara pintu tertutup, sepertinya Masterku dan temannya sudah keluar dari ruangan ini, sementara aku masih berbaring di tempat tidur itu. Kepalaku sungguh berat, apa yang terjadi sebelum ini? Aku tidak tahu tepatnya.

"Hng..."

--sepi

Ingatanku membaur jadi satu, banyak kepingan mimpi yang harus kukumpulkan. Lantunan itu... sebuah lagu... apa? Piano? Siapa yang memainkannya? Kenapa bunyi ini sangat kukenal, apa yang ...

"Ah are you alright?"

Siapa? Seorang pemuda berambut emas sedang duduk di depan sebuah piano besar, dia memainkan sebuah lagu. Lagu ini...

Kepalaku sakit, aku tidak dapat melihatnya lebih jelas, yang bisa kulakukan hanya memegangi kepalaku. Oh ya, hal bodoh apalagi yang kuperbuat sampai aku bisa terlihat selemah ini.

--ting!

Suara lantunan piano itu berhenti, sejak kapan... sejak kapan orang ini sudah ada di hadapanku lagi? Apa yang dilakukannya, membantuku untuk bertahan agar tetap duduk?

"Are you alright?" pertanyaan yang sama. Aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa memberitahu bahwa rasanya kepalaku ini hampir pecah.

"You're Phoebe right? That white Phoenix?" pertanyaan selanjutnya yang langsung kubenarkan dengan anggukan kepala. Mau apa?

--kriet!

"Her name is Rhea you know. I just told it before!"

Masterku masuk kembali ke dalam ruangan itu, oh ia membawa dua gelas cangkir dan langsung diletakan di atas meja tanpa menoleh padaku. Seperti itukah?

"Oh I know, Rheaffel Kharisteria, right?" tanya pemuda ini padaku lagi dengan sunggingan senyumnya. ...Itu adalah kali pertama ada orang yang tersenyum padaku, atau aku lupa dengan hal sebelum itu?

Sekilas rasanya nyaman... tapi rasa sakit di kepalaku lebih dari rasa nyaman itu. Enyahlah kalian! ... kenapa aku selalu meringis sendirian dan tidak bisa mengeluarkan perasaan sakit itu?

"You know,..." ia masih berbicara padaku. Suaranya makin sayu dan tidak jelas di telingaku. "My name is Ra..."

--hilang




...Siapa namanya tadi?

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya anggap ini tamat...
kalau nggak ngerti maaf *nggak tau nih nulis apa* dan ini sangat tidak jelas sekali ya -w- *maklum setengah ngantuk saya*

silakan diterka saja apa maksudnya *nguap*
avatar
Rheaffel
Member
Member

Posts : 1138
Points : 1193
Join date : 2009-07-03
Age : 25
Location : Hanamacchi

Character Bio
Character Name:
Status:
Job:

View user profile http://cairy.deviantart.com

Back to top Go down

Re: [omake] the lack of partitures

Post by Rheaffel on Thu Jul 09, 2009 12:22 am

the Stack of Partiture
the Second Part of same Session

...

Putih... putih... siapa, aku? Oh bukan. Yang putih bukan hanya aku tapi macam-macam di dunia ini. Lihatlah, ada bunga mawar di sana yang berwarna sama. Itu lebih baik kan daripada seekor burung... unggas menyebalkan yang kerjanya hanya tidur saja. Mereka bahkan lebih cantik daripada seorang wanita bangsawan.

--mawar

Namaku Phoebe, itu adalah nama yang terikat padaku entah sejak kapan. Hidup sendiri, tiada berorang tua atau memiliki sahabat. Hidupku parah, bisa diibaratkan aku adalah sehelai kertas yang akan terus terbang seiring angin membawaku. Sendu.

Semuanya mungkin berubah ketika pintu dari dunia menyeramkan itu terbuka, semuanya terlihat lebih bercahaya. Mereka menjalin kontrak denganku, sebuah kontrak pemakaman bagi diri mereka sendiri karena itu berarti suka-tidak-suka mereka harus bertempur di jalan yang justru mendekatkan diri mereka pada kematian.

--collector, sebutan yang menyeramkan.

Collector pertamaku adalah seseorang dari keluarga ini. Seorang pria yang ramah, kurasa dan itu terjadi hampir puluhan tahun yang lalu. Aku tidak ingat siapa namanya, ia membuatku lupa akan keberadaanya sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengubur dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawaku.

--As ? Ingatkah kau...

Dan kemudian ada dua sampai tiga orang lagi yang menjadi kolektorku. Hampir sekitar empat generasi, dan terus seperti itu. Kebanyakan dari mereka mati, atau hampir mati lalu menyelesaikan segalanya. Bosan... karena aku sama sekali tidak berguna. Tidak ada yang berkesan dari mereka selain Masterku yang pertama dan aku menyesali telah lupa padanya.

... Kemudian semuanya datang. Maksudku, yang seperti ini datang lagi. Jika mungkin aku sudah bekerja untuk empat generasi, maka ini adalah tuanku yang kelima atau malah enam? Hanya seorang pria biasa, aku memanggilnya Master, ia adalah tuanku yang sangat kuat.

"Can You change your self into a human form like me? ... And can you say something like me or understand what I mean?"

Itu adalah pertanyaan darinya. Mungkin agak merasa risih dengan bentuk burungku ini. Aku hanya mengangguk, YA, aku dapat berubah ke bentuk manusia, tapi itu akan membuatnya mungkin tidak akan menyukaiku. Karena manusiaku rapuh, seperti sehelai kertas.

Dan itu adalah kali pertamanya aku memperlihatkan sosok manusiaku.

"Of course Master Shein. I'm Phoebe feel happy can be your Chain, Master."

Ia hanya diam saja, mengangguk tanpa memperhatikan bagaimana aku menghormatinya. Ini pasti tudingan lagi, ya ampun... aku menyesal memiliki sosok ini. Lihatlah, mana ada phoenix yang memiliki wujud seorang gadis bertampang lesu dengan badan kecil sepertiku. Siapa yang percaya, kalau anak kecil mungkin akan berkata 'Sama sekali tidak keren'. Payah.

"Rheaffel Kharisteria,"

Aku mendengar sebuah nama disebutkan. Singkatnya, itu adalah nama baruku. Entah aku tidak mengerti. Alasannya cukup simple, yaitu karena Chain dapat berubah menjadi manusia maka ia harus memiliki nama seorang manusia. Kenapa?

"If I call you Rhea, you must answer it!"

--tentu saja.

Janjiku ketika kehidupan ini mulai adalah, akan melayani siapapun yang akan menjadi Masterku, dengan syarat... ia mau mengakui kehadiranku. Egois.

///

Hanya diam. Yang dilakukannya hanya diam? Tidak adakah pekerjaan lain bagimu Master? Aku bingung harus mengikutimu sampai mana, ini berbeda dengan Master-Master sebelumku. Ia tidak pernah menyuruhku untuk mengeluarkan jurus ini-itu, hanya duduk terdiam, menikmati secangkir teh, melukis, berjalan-jalan.

--Bosan?

Apa Anda kehilangan arah? Sama sepertiku?

Aku diam melihatnya, tidak ada yang bisa kulakukan. Yah seandainya aku masih memiliki emosi untuk bisa mengerti rasa sepi... pasti akan kulakukan apapun demi itu. Tapi yah... inilah aku yang tidak berguna. Sudah kuperingatkan jangan sampai ia memilihku, namun suara itu nampaknya tidak pernah keluar.

... Baiklah, sekarang apa?

///

Aku ingat sebuah pertempuran, di mana Masterku mengambil pedang dan memakai jubahnya. Bersiap-siap dengan gagahnya tanpa kutahu apa maksud ia melakukan semua itu.

Untuk apa Anda bertempur? Ingin kutanyakan semuanya, tapi rasaku mengatakan agar menurut saja. Tidak apa, aku akan menjadi pedang serta tameng untuknya. Tidak usah khawatir, aku tidak akan membiarkan ada lagi orang yang mengubur dirinya untuk menyelamatkan nyawa yang sama sekali tidak berharga ini.

Tidak apa Rhea, kau akan baik-baik saja.

///

Pertempuran itu segera datang, dan aku terbang melewati puncaknya walau kemudian terjatuh.

--kapan?



------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ah... ini saya tulis waktu nunggu donlotan, well 15 menit --a sedikit ya
disadur dari tulisannya Darktray di Shein's Past

lol bolak-balik =w=

Yah saya memang bilang ini tidak ada lanjutannya, hanya sepotong2 tapi mungkin saja ada kan~
avatar
Rheaffel
Member
Member

Posts : 1138
Points : 1193
Join date : 2009-07-03
Age : 25
Location : Hanamacchi

Character Bio
Character Name:
Status:
Job:

View user profile http://cairy.deviantart.com

Back to top Go down

Re: [omake] the lack of partitures

Post by Rheaffel on Fri Jul 10, 2009 12:33 am

The Fuck! of Partiture
the Last Resort


...

Aku adalah es batu, terkadang menjadi batu bara, atau sejumput pasir, lebih parah jika menjadi helaian angin. Aku akan berubah sebagaimana alam memanggilku, sebagaimana melodi lembut itu mengalun memasuki telingaku.

---Aku adalah Aku

Last Resort adalah tujuan terakhir. Bagiku mungkin tempat itu adalah Abyss, atau yah siapa yang tahu bahwa setelah puluhan tahun aku tinggal di sana kemudian aku akan kembali ke tempat itu bersama Masterku. Kami melewati banyak hal bersama dan banyak hal yang kemudian kupelajari darinya.

Sosok yang tegas, baik hati walau terkadang menyebalkan!

Jangan salahkan aku jika berbuat super arrogant, aku memang bukan Chain yang banyak omong tapi tindakanku selalu menunjukkan apa yang ingin aku bicarakan. Menyebalkan! Aku memisuh dalam hati tiap kali ia memberikan perintah.

Well Rhea, prepare dinner! Where's the Tea?!"

Aku bukan PELAYAN! Dan ya... aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Hari-hari di Abyss lebih menyeramkan daripada ketika aku sendiri. Orang ini mengerjaiku habis-habisan dengan suruhannya yang tidak masuk akal. Apalagi... terkadang otak mesumnya bekerja, ah! ... Masalahnya bukan padaku (dalam segi penampilan aku adalah bocah berumur 16 tahun) tapi pada ilegal Chain berbaju seksi dengan kaki panjang ramping, dada terbuka dan... oh ya, mari lupakan itu. Aku bisa GILA!

...

--Tolong, skip tulisan di atas.... Oh terima kasih.

Jadi kesimpulannya, Abyss adalah Last Resort bagiku seandainya keluarga Einverd tidak memanggilku dari tanah terkutuk itu.

SELESAI

-------------------------------

Ah masih belum. Aku masih ingin banyak bercerita khususnya tentang beragam kesialanku selama ini. Hm... mari ingat-ingat beberapa kisah klasik tentang diriku dan kebodohan (maksudku kecerobohan yang menyebalkan) dari Masterku.

Akhirnya kami kembali dari Abyss, dan keluarga ini kemudian mengangkat Master sebagai sang kepala keluarga. Oh ya! Aku sangat senang sekali, belum ada Masterku yang menjadi kepala keluarga sebelum ini. Keren kan~ ... tadinya kurasa YA.

Sampai ketika, dari balik tirai-tirai jendela itu kulihat Master membawa masuk seorang wanita. Hey! Dia bukan WANITA!! Dia itu CHAIN sama sepertiku, hanya saja ya... dia mungkin jauh lebih cantik dan seksi daripada aku. Aku hanya sebal karena sejak hari itu, Master hanya memerhatikan Chain bertubuh molek yang tengah terluka itu. Apa yang dilakukannya?

...

Sejujurnya karena mata burungku memiliki sisi penglihatan agak tajam makanya mungkin si Chain yang diselamatkan Master itu malah balas menatapku dengan pandangan mematikannya juga. Padahal kala itu aku tidak ingin mencari ribut dengannya, tapi tiba-tiba saja aku merasa kesal padanya.

"Don't attack her!!"

Dan... tiba-tiba saja Masterku membentak. Oh... itu adalah satu hal yang bisa membuatku gila. Aku takut bentakan dan ini membuatku agaknya kehilangan kontrol emosi. Pikiranku tidak jernih, bentakan itu melesat masuk ke telingaku dan membuka sebuah luka di otakku.

'Stop it! Stop!!'

Bagai burung yang sedang stress... maksudku, burung yang kehilangan sayapnya. Aku bergerak ke sana-ke mari menyerangnya, hingga bentakan demi bentakan kuterima dengan dahsyatnya.

"PHOEBE!! You carry too far!!"

Aku? Keterlaluan? Bukannya Anda yang keterlaluan Master? Siapa yang melindungi Anda selama ratusan hari di Abyss dan rela terbang seharian (membuat pernafasanku kacau) demi mencari air untuk Anda.

--KEJAM!!

Pergi... siapa juga yang mau melihatnya dengan Chain barunya itu. Lebih baik aku mengubur diri dalam-dalam daripada harus diduakan. Menyebalkan...

"Just alone?"

Aku duduk sendiri, bukan meratapi nasib, tapi memikirkan bagaimana caranya mengubur diri. Kurasa kalau dengan tanganku rasanya sulit. Lalu... seseorang datang, kau kah itu?

--As? kau tahu aku mengharapkan itu adalah dirimu.

Oh, Raven! Dia sahabat Masterku yang pandai memainkan piano. Aku sangat menyukai permainan pianonya, dan terkadang hal itu membuatku agak lupa dengan perkara yang telah terjadi. Alunan suara itu membuatku mengingat masa di mana aku bahagia, walau tidak pernah kualami masa seperti itu.

"Mr. Raven!"

Aku mengangkat kepalaku kemudian menundukkannya lagi. Orang ini mungkin jauh lebih kuhormati daripada Masterku sendiri.

"There's something that disturbing you?"

Tanyanya, spontan. Ya! Aku terganggu dengan kedatangan Chain itu. Mungkin Masterku akan lebih memilihnya sebagai pedang dan tamengnya ketimbang aku yang sudah tua dan berpikiran kolot --serta bodoh dan otak yang agak lambat merespon--.

Aku hanya menundukkan kepala sembari memasang wajah masam.

"Oh I know, that Chain? She can't make you lose your existence as His Chain. Phoenix is the best Chain for him,"

--benarkah?

Oh oke... kalau soal pengalaman mungkin aku lebih tahu daripada dia, aku sudah hidup ratusan tahun dan menjalani beragam perkara. Dan tak mau kehilangan eksistensi diriku lagi.

"You make me comfortable, thank~"

Tuan Raven benar-benar membuatku nyaman, bukan hanya lagunya tapi juga kata-katannya. Mengingatkannya pada seseorang yang sudah dilupakannya.



-- As, maukah kau mengingatku lagi?



-------------------------------------------------------------------------------------------------------



Dan... 'SREEEK!!'

"Rhea apa yang kau lakukan?!" Shein memasuki ruangan yang Rhea sebut sebagai kamar. Phoenix putih itu sedang asik menorehkan tinta pada berlembar-lembar kertas, namun segera menyembunyikannya ketika Shein masuk.

"Ti... tidak ada kok," dengan tampang ragu, Rhea menyembunyikan kertas berisi umpatan rasa kesalnya pada Shein itu di balik lipatan gaun tipisnya. "Aaah... jadi apa yang Anda lakukan di sini Master?" gadis ini lalu mengalihkan ranah pembicaraan.

"Apa yang kau sembunyikan?" nampaknya sang Master mulai curiga dengan kelakuannya. Ia lalu mulai melirik ke sana-ke mari.

"Ap... apa yang Anda..." belum sempat melanjutkan kata-katanya kemudian Shein terpaksa menarik lengan Rhea ke atas dan... Srak... Srak... lembaran kertas berisi umpatan itu berjatuhan ke lantai.

--OMG matilah aku!!

Shein kemudian menunduk untuk mengambil kertasnya dan sebelum ia sadar, Rhea segera mengambil langkah seribu. Ia tidak ingin mendengarkan bentakan itu.

...

"RHEA!!!"

--- "Nai~!!!"











END!!

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

at all, cerita ini berakhir dan mungkin akan bersambung ke chapter 1 RP yang sebenarnya. Bagaimana nasib si phoenix... jangan lupa untuk ikuti terus perkembangan kehidupan brutalnya :3

*disepak Rhea*
avatar
Rheaffel
Member
Member

Posts : 1138
Points : 1193
Join date : 2009-07-03
Age : 25
Location : Hanamacchi

Character Bio
Character Name:
Status:
Job:

View user profile http://cairy.deviantart.com

Back to top Go down

Re: [omake] the lack of partitures

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum